Senin, 25 September 2017

Medah Wajar Kecewa dengan Elite Golkar

id medah
Medah Wajar Kecewa dengan Elite Golkar
Ibrahim Agustinus Medah
Wajar jika Ketua DPD Partai Golkar NTT Ibrahim Agustinus Medah mengundurkan diri dari jabatan karena kecewa dengan elite Golkar di DPP.
Kupang (Antara NTT) - Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr. Ahmad Atang, MSi menilai wajar jika Ketua DPD Partai Golkar NTT Ibrahim Agustinus Medah mengundurkan diri dari jabatan karena kecewa dengan elite Golkar di DPP.

"Bagi saya itu bukan hal yang aneh karena kasus lompat partai merupakan hal biasa dalam demokrasi. Sebagai kader yang sudah malang melintang di politik bersama partai Golkar adalah wajar jika Medah kecewa dengan elite Golkar di DPP," kata Ahmad Atang kepada Antara di Kupang, Sabtu.

Dia mengemukakan hal itu, terkait pengunduran diri Ketua DPD Partai Golkar NTT Ibrahim Agustinus Medah karena tidak ditetapkan sebagai calon Gubernur NTT dalam Pilgub 2018 mendatang. Medah kemudian "lompat pagar" ke Partai Hanura.

Menurut Ahamad Atang, mekanisme pengambilan keputusan yang mementalkan Ibrahim Medah merupakan bentuk pengzaliman terhadap mantan Bupati Kupang dua periode dan Ketua DPRD NTT itu.

Sungguh pun begitu, ini merupakan antiklimaks di Golkar akibat konflik internal yang masih menyisakan rivalitas terselubung dan kiblat politik daerah terhadap DPP yang masih terbelah.

Apalagi respon daerah terhadap kasus Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto yang terjerat kasus KTP elektronik.

"Boleh jadi ada spionase politik yang sedang mengidentifikasi militansi kader terhadap Setya Novanto masih kuat atau justru melemah dan Medah ada diarus yang mana," katanya.

Pada titik ini belum ada variabel internal yang menjelaskan sikap DPP Partai Golkar terhadap Ibrahim Agustinus Medah.

"Jika kami runut ke belakang dalam kasus Pilgub dua kali justru Medah dan Golkar selalu kalah, karena itu maka adalah suatu hal yang wajar jika pencalonan Medah perlu dievaluasi," tambah dosen ilmu komunikasi politik pada Universitas Nusa Cendana (Undana) itu.

"Namum caranya melakukan evaluasi terhadap dua kali kekalahan Medah dalam Pilgub NTT yang menurut saya tidak elegan," katanya.

Dia menambahkan, dengan gabungnnya Medah ke Partai Hanura tidak serta merta membuat partai ini menjadi besar tapi mendapatkan kader sehebat Medah tentu menambah semangat partai.

"Tidak otomatis membesarkan Partai Hanura di NTT, tetapi minimal menambah semangat partai untuk berjuang bersama memenangkan Medah menghadapi pilkada dan Pilgub mendatang," katanya. 

Editor: Laurensius Molan

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga