Selasa, 26 September 2017

Anggaran Darurat Kekeringan untuk Sabu Raijua

id Kekeringan
Anggaran Darurat Kekeringan untuk Sabu Raijua
Tini Tadeus
"Kami sudah ajukan proposal ke BNPB untuk meminta bantuan dana dalam upaya mengatasi bahaya kekeringan di salah satu pulau terdepan Indonesia itu," kata Tini Tadeus.
Kupang (Antara NTT) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Timur telah mengajukan dana sebesar Rp1 miliar ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menangani kasus Darurat Kekeringan di Kabupaten Sabu Raijua.

"Kami sudah ajukan proposal ke BNPB untuk meminta bantuan dana dalam upaya mengatasi bahaya kekeringan di salah satu pulau terdepan Indonesia itu," kata Kepala BPBD Nusa Tenggara Timur Tini Tadeus kepada Antara di Kupang, Senin.

Ia mengatakan jumlah anggaran yang diajukan tersebut tergolong besar, karena menurut laporan pemerintah dan BPBD Sabu Raijua, hampir 90 persen desa-desa di Pulau Sabu dan Raijua mengalami kekeringan hebat yang perlu secepatnya ditangani.

Atas dasar itu, Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua kemudian menetapkan wilayah tersebut masuk dalam kategori Darurat Kekeringan berdasarkan Keputusan Bupati Nomor: 265/KEP/HK/2017 yang ditandatangani oleh Pelaksana Tugas Bupati Sabu Raijua Nicodemus Rihi Heke.

Tadeus mengatakan anggaran yang diajukan saat ini masih dalam proses untuk disetujui karena baru dikirim proposalnya. "Tim BNPB akan turun langsung ke lapangan untuk melihat darii kondisi kekeringan yang sesungguhnya," ujar Tadeus.

Selain Sabu Raijua, kata dia, ada delapan kabupaten lain di NTT juga masuk dalam Darurat Kekeringan yaitu Kabupaten Flores Timur, Rote Ndao, Timor Tengah Utara, Belu, Malaka, Sumba Timur, Sumba Tengah, dan Sumba Barat Daya.

Tadeus menambahkan, laporan Darurat Kekeringan itu sudah disertai dengan permintaan anggaran yang totalnya mencapai sekitar Rp10 miliar.

Khusus untuk Kabupaten Flores Timur, laporan Darurat Kekeringan sudah disampaikan jauh hari sebelumnya sehingga sudah ada bantuan sebesar Rp500 juta untuk daerah di wilayah paling timur Pulau Flores itu.

Luas kekeringan
Sementara itu, Pelaksana Tugas Bupati Sabu Raijua Nicodemus Rihi Heke mengaku kesulitan dalam menentukan berapa luas wilayah di kabupaten itu yang mengalami kekeringan.

"Kami kesulitan untuk mengukur keseluruhan berapa luas wilayah yang terkena dampak dari kekeringan ini, sebab memang sejauh ini yang kami data ada beberapa titik yang terkena kekeringan, tetapi di titik yang lain justru tidak," katanya saat dihubungi dari Kupang, Senin.

Ia mencontohkan di wilayah Sabu Timur, misalnya, ada sumber mata air yang besar, namun bukan berarti seluruh Sabu itu terkena kekeringan. Ada beberapa desa yang terkena dampak dari bencana kekeringan tersebut.

Namun ia mengatakan bahwa untuk di Pulau Raijua sendiri lima desa seluruhnya terkena dampak dari bencana kekeringan tersebut.

Nicodemus pun menyebutkan beberapa desa yang terkena bencana kekeringan tersebut seperti desa Halapaji, Desa Keliha, serta lima desa kelurahan di Pulau Raijua.

"Untuk mengatasi masalah ini kami sudah melakukan beberapa cara agar masyarakat kami tidak mengalami kekeringan dan kesulitan air bersih," ujarnya.

Beberapa langkah yang diambil adalah dengan cara mendrop 335 unit mobil tangki untuk membantu menyuplai air bersih bagi warga di desa-desa yang kekeringan.

Namun menurutnya pihaknya tidak hanya menyiapkan mobil tangki. Tetapi juga menyediakan fiber atau bak penanpungan air di satu titik agar memudahkan untuk pembagian air untuk setiap kepala keluarga.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Sabu Raijua Pither Mara Rohi mengatakan 335 unit mobil tangki yang sudah dikerahkan untuk menyuplai air bersih ke desa-desa. Setiap hari rata-rata lima sampai enam mobil tangki melayani satu desa/kelurahan.

"Hitungan kami, sebanyak 12 kepala keluarga (KK) dilayani satu tangki dengan asumsi rata-rata setiap desa/kelurahan dilayani rata-rata 5-6 tangki air per hari," katanya.

Lebih lanjut, Nicodemus menambahkan bahwa kemarau panjang yang menimpa masyarakat di salah satu pulau terdepan di NTT itu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

"Memang Sabu ini kering namun tahun ini musim keringnya agak berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Sebab kekeringannya berkepanjangan," katanya dan mengharapkan agar musim hujan segera tiba, sehingga masalah kekeringan itu bisa segera diatasi.

Editor: Laurensius Molan

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga