Jalan di pesisir Pantai Oesapa mendesak diperbaiki

id Longsor

Pengendara sepeda motor melintas di pinggir jalan yang longsor akibat abrasi yang menerjang wilayah Oesapa Kota Kupang, NTT pada Jumat, (25/1/2019). (ANTARA Foto/Kornelis Kaha)

Ketua Komisi V DPR RI Fary Djemi Francis menilai jalan di pesisir pantai Oesapa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur yang longsor akibat abrasi mendesak untuk segera diperbaiki.
Kupang (ANTARA News NTT) - Ketua Komisi V DPR RI Fary Djemi Francis menilai jalan di pesisir pantai Oesapa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur yang longsor akibat abrasi mendesak untuk segera diperbaiki.

"Menurut kami longsor akibat abrasi ini seharusnya sudah diperbaiki dan ini sudah sangat mendesak," katanya kepada wartawan di Kupang, Jumat (25/1), saat meninjau sejumlah pemecah gelombang di Kota Kupang yang dibangun dengan dana APBN..

Ia mengatakan jalanan di pesisir Pantai Oesapa yang longsor itu merupakan tanggungjawabnya pemerintah Kota Kupang, karena merupakan proyek daerah, bukan dibangun dengan dana dari APBN.

"Walaupun jalan tersebut dibangun menggunakan dana APBN, tetapi sudah dihibahkan ke Pemkot Kupang sehingga menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Kupang," ujarnya.

Menurut Ketua Fraksi Gerindra di MPR itu seharusnya Pemkot segera mengeluarkan anggaran untuk memperbaiki jalan serta membangun tanggul penahan ombak sepanjang 300 meter untuk melindungi jalan dan kawasan sekitarnya dari ancaman gelombang.

Politisi dari Partai Gerindra itu mengatakan akan memperjuangkan anggaran tambahan dari APBN untuk membangun tanggul yang lebih tinggi lagi jika pemerintah Kota Kupang sudah mulai membangunnya.

"Saya nanti akan bicarakan lagi hal ini dengan pak Wali Kota Kupang,. Jika tidak ada anggaran maka pak wali kota bisa bersurat memohon bantuan anggaran untuk perbaiki jalan tersebut," ujarnya.

Fary juga meninjau dermaga pantai Teddys Kupang yang ambruk diterjang gelombang pasang sejak Rabu (23/1) lalu.

Baca juga: Trans Ruteng-Reo putus akibat longsor
Baca juga: Pemkab Manggarai bangun jalan alternatif Ruteng-Reo
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar