Tim ahli masih menghitung kerugian yang disebabkan kapal karam

id kapal karam

Moh Saleh Goro (kiri) sedang menyerahkan bantuan kepada salah seorang Ketua Pokmas Pengawas Perairan Laut di Kupang, Jumat (22/3). (ANTARA FOTO/Bernadus Tokan)

Tm ahli masih menghitung besaran kerugian yang disebabkan oleh karamnya kapal tanker Ocean Princess di wilayah Suaka Alam Perairan (SAP) Selat Pantar, Alor.
Kupang (ANTARA) - Ketua Tim Valuasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan Nusa Tenggara Timur Moh Saleh Goro mengatakan, tim ahli masih menghitung besaran kerugian yang disebabkan oleh karamnya kapal tanker Ocean Princess di wilayah Suaka Alam Perairan (SAP) Selat Pantar, Alor.

"Mengenai kerusakan biota laut, tim Valuasi sudah melakukan pendataan, tetapi berapa besar kerugian, masih dihitung oleh tim ahli dari Jakarta sejak karamnya kapal tanker sampai merusak biotalaut di SAP Selat Pantar," kata Saleh Goro kepada Antara di Kupang, Jumat (22/3).

Kapal tanker Ocean Princess karam di SAP Selat Pantar, Kabupaten Alor,  Nusa Tenggara Timur saat dalam pelayaran dari Dili, Timor Leste menuju Singapura pada Desember 2018.

Saleh Goro mengatakan, tim ahli yang dibentuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sudah melihat langsung lokasi karamnya kapal tanker Ocean Princess.

"Jadi kami menunggu saja hasil kerja tim ahli, sekaligus menyerahkan hasilnya kepada perusahan pemilik kapal untuk proses lebih lanjut," kata Saleh Goro.

Mengenai restorasi wilayah perairan yang rusak, Saleh Goro mengatakan, kerusakan ekosistem laut seperti biota laut dan sejenisnya, belum bisa dipastikan karena masih menunggu hasil kerja dari tim ahli.

"Nanti tim ahli yang menentukan besaran kerugian, apakah kerusakan terumbu karang akibat kapal karam itu bisa dipulihkan kembali atau tidak, dan kalau bisa dipulihkan kembali berapa kebutuhan biayanya," katanya.
     
Dia menambahkan, berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan Tim Valuasi menunjukkan bahwa, karang di perairan laut SAP Selat Pantar dan laut sekitarnya, mengalami kerusakan serius akibat kandasnya kapal tanker Ocean Princess di perairan pesisir Desa Aemoli, Kabupaten Alor pada akhir Desember 2018 lalu.

Selain itu, terdapat sekitar 28 spot karang yang hancur serta satu hamparan karang dengan ukuran 163x73 CM yang sudah tidak bisa dikenali lagi.
     
"Ada 28 spot karang yang hancur, terdiri dari 19 spot karang padat (massve) dan tujuh spot karang bercabang," kata Ketua Tim Valuasi dari DKP NTT, Saleh Goro.
     
Karang massve ini, masa pertumbuhannya 1-2 CM per tahun. Hasil investigasi lain adalah koloni karang yang rusak berdiameter 10-130 CM. 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar