Inflasi di NTT selama 2018 mencapai 3.07 persen

id inflasi 2018

Seorang pengendara sedang melintas di depan Gedung Bank Indonesia di Jalan El Tari Kupang. (ANTARA FOTO/Bernadus Tokan)

Bank Indonesia mencatat tingkat inflasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sepanjang tahun 2018 mencapai 3,07 persen (yoy), meningkat dibanding tahun 2017 sebesar 2.00 persen (yoy).
Kupang (ANTARA) - Bank Indonesia mencatat tingkat inflasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sepanjang tahun 2018 mencapai 3,07 persen (yoy), meningkat dibanding tahun 2017 sebesar 2.00 persen (yoy).

Demikian hasil kajian ekonomi dan keuangan regional Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), oleh Bank Indonesia yang diterima Antara di Kupang, Kamis (11/4).

Walaupun mengalami peningkatan dibanding tahun 2017, namun pencapaian ini masih berada dalam rentang terget inflasi nasional sebesar 3,5 persen kurang lebih 1 persen (yoy).

Menurut Bank Indonesia, terkendalinya harga sebagian bahan makanan pada komoditas ikan segera dan sayur-sayuran, menjadi penyebab utama terkendalinya inflasi di tahun 2018.

Jika dibanding dengan tahun 2017, tren inflasi masih mengalami pola musiman dengan deflasi di kisaran triwulan III, diikuti dengan kenaikan yang cukup tinggi pada dua bulan menjelang akhir tahun 2018.

Namun begitu, jika dibandingkan dengan tahun 2017, besar deflasi yang terjadi di bulan Oktober tidak terlalu signifikan, terlebih lagi kelangkaan pangan di awal 2018 masih memberikan dampak pada tingkat harga secara keseluruhan.

Baca juga: TPID NTT perlu kerja ekstra tekan inflasi

Kondisi inilah yang menyebabkan secara tahunan inflasi di Provinsi NTT mengalami peningkatan yang berarti, namun relatif terjaga.

Adanya koordinasi dan pemantauan pasokan beberapa komoditas sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan berhasil menurunkan beberapa komoditas sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan.

Dalam laporan BI menyebutkan, pada akhir 2018, Provinsi NTT mengalami inflasi angkutan udara tertinggi, paling tidak dalam empat tahun terakhir secara tahunan (yoy).

Walaupun secara bulanan tetap mengalami pola inflasi pada bulan November dan Desember.

Namun inflasi angkutan udara pada tahun 2018 ini cukup besar dampaknya bagi provinsi kepulauan NTT, yang sebagian besar penduduknya berasal dari luar pulau, demikian Bank Indonesia. 

Baca juga: Inflasi triwulan II/2019 di NTT belum stabil
Baca juga: Inflasi triwulan I diperkirakan 2,30-2,70 persen
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar