Artikel - Kamis Putih dan pemimpin yang rendah hati

id Kamis putih

Paus Fransiskus sedang mencium kaki para pemimpin Sudan Selatan di Santa Marta Vatican City. (Vatican media/Reuters)

Tetapi satu kegunaan kekuasaan adalah untuk melayani sesama. Inilah ciri pemimpin sejati, kerendahan hati dan pelayanan yang terbaik untuk sesama. Sikap inilah yang akan dihormati dan disenangi banyak orang. 
Kupang (ANTARA) - Dalam tradisi Gereja Katolik, perayaan Kamis Putih sebelum Paskah, merupakan sebuah simbol gerejawi yang selalu dikenang umat Kristiani sedunia sebagai Perjamuan Malam Terakhir antara Yesus Kristus dengan murid-muridNya.

Tradisi Perjamuan Malam Terakhir ini juga untuk mengenang kerendahan hati seorang Yesus Kristus yang dengan rela dan penuh suka cita membasuhi kaki murid-muridNya sebelum akhirnya dijual Yudas Iskariot kepada para serdadu Yahudi.

Perayaan Kamis Putih, dalam tradisi gereja, juga untuk mengenang kisah Yesus Kristus mendekati masa-masa kematianNya yang dilukiskan penuh syarat makna, karena untuk terakhir kalinya Yesus membagi roti Paskah kepada murid-muridNya.

Ini adalah tanda keteladanan dari Yesus yang dilukiskan oleh murid-muridNya sebagai bentuk pelayanan total dari seorang pelayan (pemimpin) kepada seluruh umat manusia tanpa memandang suku, agama, ras dan golongan.

Tindakan Yesus membasuh kaki, dalam pandangan gereja, merupakan tindakan simbolis yang melukiskan bentuk penyerahan diri, pembersihan, pengampunan, pembaharuan, kemuridan dan ibadah.

Pembasuhan kaki yang lakukan oleh Yesus Kristus juga disimbolkan sebagai bentuk kerendahan hati dan keinginan yang kuat untuk menjadi "hamba" yang mau melayani orang yang hina sekalipun.

Dalam liturgi gereja, Kamis Putih akan dirayakan umat Kristiani sedunia pada hari ini (Kamis, 18/4), atau sehari setelah Bangsa Indonesia melaksanakan pemilihan umum untuk memilih para wakilnya yang akan duduk di parlemen serta Presiden dan Wakil Presiden.

Banyak hal yang bisa dipelajari dari Kamis Putih ini, yakni tentang pelayanan, kerendahan hati, kebersamaan, dan kesederhanaan. 

Melalui Kamis Putih, Yesus mengajarkan bahwa seorang pemimpin bukanlah pihak yang dilayani, melainkan pihak yang melayani. Namun, dewasa ini, suasana seperti itu selalu tampak kontradiksi, yakni melihat pemimpin yang maunya dilayani saja, tetapi dia tidak pernah melayani. 

Ada juga pemimpin yang ingin mendapatkan pelayanan yang eksklusif, tetapi tidak pernah memberi pelayanan yang eksklusif kepada rakyat-Nya.

Leonardo da Vinci, seniman termahsyur dunia, kemudian melukiskan peritiswa bersejarah tersebut lewat The Last Supper. Lukisan tersebut sampai saat ini masih tersimpan di Gereja Santa Maria Milan, Italia.

Baca juga: Feature - Kamis Putih dan simbol pemimipin yang melayani

Dan, saat ini, umat Kristiani sedunia sedang memasuki masa Paskah yang sering dilukiskan sebagai bentuk pembebasan manusia dari noda dosa, sedang orang Yahudi memperingatinya dengan makan roti tak beragi

Rendah hati
Kamis Putih tampaknya lebih memberi penekanan tipe kepemimpinan seseorang yang rendah hati dan bersahaja. Namun, dalam kenyataannya, tampaknya agak sulit untuk menemukan seorang pemimpin yang rendah hati.

Sebab, tidak semua orang yang menduduki jabatan sebagai pemimpin memiliki kemampuan untuk memimpin, sebaliknya banyak orang yang memiliki bakat sebagai pemimpin tetapi tidak pernah mendapat kesempatan untuk menjadi pemimpin.

Atas dasar ini, sulit bagi bangsa ini untuk mendapatkan tipe pemimpin yang rendah hati. Rendah hati adalah sifat bijak yang melekat pada sesorang, memposisikan dirinya dengan orang lain sama, merasa tidak lebih baik, tidak lebih mahir, tidak lebih pintar, tidak juga lebih mulia. Artinya, menjadi rendah hati tidak berarti menjadi orang tolol.

Untuk menjadi seorang pemimpin yang rendah hati, menurut Hetti Marthaningrum, harus terbuka untuk menerima masukan dan kritik dari masyarakat sebagai salah satu bentuk koreksi.

Lalu, bagaimana cara seorang pemimpin memanfaatkan sikap kerendahan hati dengan efektif? Terbuka terhadap pendapat orang lain. Pemimpin yang rendah hati akan menerima masukan dari orang lain dalam mengambil keputusan terbaik untuk kepentingan bangsa dan negara.

Peduli dengan kebutuhan tim. Kinerja tim akan jauh lebih tinggi apabila anggota tim percaya pemimpin mereka benar-benar memperhatikan kebutuhan terpenting yang mereka inginkan saat ini. 

Itu tidak berarti berpegangan tangan, tetapi berarti peduli tentang lingkungan di mana tim Anda bekerja dan memastikan bahwa mereka memiliki apa yang mereka butuhkan untuk melakukan pekerjaan yang baik.

Mengakui kesalahan. Tidak ada manusia yang sempurna, begitu juga seorang pemimpin. Ketika seorang pemimpin yang rendah hati melakukan kesalahan, ia akan bersedia untuk mengakui kesalahan tersebut. Apabila pemimpin mempu memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat, ia akan mendapatkan kepercayaan lebih dari anggota tim.

Menerima kemungkinan terbaik dan terburuk. Pemimpin tentunya ingin mengontrol segala sesuatu, tetapi ada beberapa hal yang tidak dapat diketahui di awal atau sebelumnya. Seorang pemimpin harus tahu kapan harus mengambil alih atau kapan harus melepaskan diri dan tidak mencoba untuk memaksakan kehendak.

Merenungkan diri. Seperti banyak keterampilan kepemimpinan, kerendahan hati mungkin tidak datang dengan mudah untuk semua orang. Itu sebabnya seorang pemimpin perlu merenungkan diri. 

BJ Habibie adalah salah satu sosok pemimpin yang rendah hati. Dengan kejeniusannya, mantan Presiden RI ke-3 (1998-1999) ini berhasil membuat pesawat R80 memiliki kapasitas lebih besar (80-90 kursi) dibandingkan dengan N250 yang hanya memiliki kapasitas 50-60 kursi. 

Fenomena Habibie memberi gambaran bahwa kepemimpinan yang nyata adalah para pemimpin yang mengakui bahwa mereka melayani orang-orang yang mereka pimpin. Mereka memiliki sikap empati dan memberdayakan orang-orang yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin sejati adalah sosok yang bisa menginspirasi dan memberikan teladan untuk orang-orang di sekitarnya. Sikap pemimpin sejati mungkin banyak kriterianya, tapi salah satu yang menonjol menunjukkan kewibaan seorang pemimpin adalah sikap rendah hati dan melayani sesama.

Bukankah seorang pemimpin dipilih untuk melayani? Kini, bangsa Indonesia baru selesai melakukan pemilihan umum untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden yang ditokohkan kepada Joko Widodo-Maruf Amin serta Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Mereka adalah sosok pemimpin yang rendah hati dan sudah teruji elektabilitasnya, sehingga dipandang sangat berkompoten untuk memimpin bangsa dan negara ini lima tahun ke depan, 2019-2024.

Presiden Pertama Amerika Serikat George Washington mengatakan “Gunakan kekuatan untuk menolong orang lain karena kita telah diberi kekuasaan tidak untuk mengejar tujuan kita sendiri atau untuk membuat sebuah pertunjukan hebat didunia untuk sebuah nama“. 

Tetapi satu kegunaan kekuasaan adalah untuk melayani sesama. Inilah ciri pemimpin sejati, kerendahan hati dan pelayanan yang terbaik untuk sesama. Sikap inilah yang akan dihormati dan disenangi banyak orang. 

Rendah hati menciptakan kedekatan yang sangat erat antara pemimpin dengan orang biasa dan akan bersama-sama memberikan perubahan yang lebih baik. Jika ingin menjadi seorang pemimpin sejati, maka milikilah kepribadian yang baik, rendah hati dan melayani sesama.
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar