Logo Header Antaranews Kupang

BBP NTT meningkatkan kemahiran berbahasa Indonesia 50 tenaga profesional

Rabu, 4 Maret 2026 02:43 WIB
Image Print
BBP NTT menggelar kegiatan Peningkatan Kemahiran Berbahasa Indonesia (PKBI) yang diikuti 50 peserta se-NTT, di Kupang, Selasa (3/3/2026).  ANTARA/Yoseph Boli Bataona

Kupang, NTT (ANTARA) - Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur (BBP NTT) meningkatkan kemahiran berbahasa Indonesia bagi 50 tenaga profesional melalui kegiatan Peningkatan Kemahiran Berbahasa Indonesia (PKBI) 2026, guna memperkuat efektivitas komunikasi di lingkungan kerja dan kehidupan sosial.

“Mulai tahun ini, PKBI kami arahkan kepada tenaga profesional. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menyasar kalangan di luar pendidik dan tenaga kependidikan,” kata Kepala BBP NTT Ralph Hery Budhiono di Kupang, Selasa.

Ia menjelaskan pada tahun-tahun sebelumnya, kegiatan PKBI umumnya diperuntukkan guru, siswa, atau peserta yang berkecimpung dalam dunia pendidikan.

“Namun, ketika kami membuka kesempatan bagi tenaga profesional, ternyata peminatnya cukup banyak. Artinya, di luar kalangan pendidik masih banyak tenaga profesional yang memiliki kepedulian dan kemauan untuk meningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia,” katanya.

Ia mengatakan peserta merupakan profesional di bidang bahasa, seperti penulis, wartawan, widyaiswara, dosen, penyuluh, editor, pewara, dan sekretaris serta bidang lain yang pekerjaannya berkaitan dengan kepentingan strategis dan berdampak bagi banyak orang.

“Sejumlah peserta juga menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan ini. Mereka menilai PKBI penting untuk menyamakan persepsi, visi, dan misi terkait penggunaan bahasa Indonesia, khususnya dalam penyusunan tata naskah dinas di instansi masing-masing,” katanya.

Kegiatan pembinaan tersebut dimulai dengan penilaian awal untuk mengukur tingkat kemahiran berbahasa yang dimiliki oleh masyarakat sasaran.

Selanjutnya, pembekalan materi dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan bahasa Indonesia sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Setelah itu, kata Hery, pendampingan berkelanjutan dilakukan untuk memastikan kualitas berbahasa peserta dapat berkembang secara maksimal, lalu diakhiri dengan penilaian akhir yang memberikan gambaran objektif mengenai keberhasilan program.

“Harapan kami, setelah kembali ke instansi masing-masing, mereka dapat menjadi agen perubahan yang membawa perbaikan, baik dalam konteks kebahasaan secara mikro maupun dalam lingkup yang lebih luas,” katanya.



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026