Tokoh agama minta masyarakat NTT tak terpancing isu "People's Power"

id Tokoh agama

Pastor Paroki Gereja Santa Stela Maris Atambua, Romo Yoris Samuel, Pr (tengah berkemeja putih) bersama sejumlah tokoh agama di Kabupaten Belu, NTT berpose bersama dengan aparat keamanan di wilayah yang berbatasan dengan negara Timor Leste itu. (ANTARA FOTO/Dok Humas Polres Belu).

Sejumlah tokoh agama di Atambua mengajak seluruh masyarakat di Indonesia khususnya di NTT untuk tidak terpancing dengan isu People's Power yang saat ini sedang beredar di tengah masyarakat.
Kupang (ANTARA) - Sejumlah tokoh agama di Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Teggara Timur, yang berbatasan dengan TImor Leste mengajak seluruh masyarakat di Indonesia khususnya di Nusa Tenggara Timur untuk tidak terpancing dengan isu People's Power yang saat ini sedang beredar di tengah masyarakat.

"Sebagai salah satu tokoh agama di Belu, saya mengimbau kepada seluruh umat di NTT, khususnya di Atambua untuk tidak terprovokasi atau terpengaruh dengan berbagai isu yang berkaitan dengan People's Power yang kedepannya dapat merusak keharmonisan bangsa," kata Pastor Paroki Gereja Santa Stela Maris Atambua Pastor Yoris Samuel, Pr saat dihubungi Antara dari Kupang, Selasa (14/5).

Ia mengatakan, isu People's Power itu sengaja dimunculkan oleh para elit politik bangsa ini dengan tujuan untuk memecah belah bangsa. "Sebagai tokoh agama, saya berharap agar hal itu tidak terjadi. Indonesia adalah negara hukum, jika ada hal-hal yang ingin disampaikan teruskan saja ke Bawaslu dan KPU sebagai penyelenggara pemilu," katanya.

"Saat ini melalui media sosial semakin gencar informasi soal People's Power diisukan. Oleh karena itu mari kita dukung TNI dan Polri untuk bersama-sama menjaga bangsa ini dari gangguan kelompok-kelompok yang ingin memecah belah bangsa Indonesia," ujar dia.

Sebagai masyarakat yang menginginkan kedamaian, Romo Yoris mengajak seluruh masyarakat untuk memberikan edukasi dan optimisme kepada publik bahwa berbagai pihak yang sudah diracuni dengan informasi yang berujung pada konflik.

Sementara itu ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Belu, Kaliman B Lamarobak, juga mengatakan dalam setiap ceramahnya di masjid, ia selalu mengimbau umatnya untuk tidak terpengaruh dengan berbagai informasi yang berkaitan dengan isu People's Power.

"Negara kita adalah negara hukum. Jika ada kecurangan dalam Pemilu ya laporkan saja ke KPU dan Bawaslu, bukan menggerakkan massa untuk melakukan tindakan radikalisme dalam memecah belah persatuan dan kesatuan," katanya.

Menurut dia, masyarakat di NTT khususnya di Kabupaten Belu perlu tetap diberikan edukasi untuk tidak percaya dengan berbagai informasi yang menyebar di media sosial, mulai dari isu People's Power serta berita-berita yang tidak jelas asal usulnya.

Baca juga: Jokowi-Amin menang telak di NTT dengan meraih 88,57 persen suara
Baca juga: Jokowi-Amin diminta perhatikan pembangunan pendidikan di NTT
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar