Logo Header Antaranews Kupang

Indonesia amankan pasokan bahan baku plastik dari India, Afrika dan AS

Kamis, 9 April 2026 15:52 WIB
Image Print
Seorang pedagang menata gelas plastik yang dijual di Toko Dua, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (9/4/2026). Menurut pedagang, melonjaknya harga produk berbahan plastik dirasakan setelah Idul Fitri 2026 dengan kenaikan rata-rata sekitar 50 persen dari harga Rp7 ribu menjadi Rp12 ribu per kemasan, mengakibatkan daya beli warga menurun. ANTARA FOTO/Auliya Rahman/wsj. (ANTARA FOTO/AULIYA RAHMAN)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyampaikan Indonesia telah mengamankan komitmen pasokan nafta--yang merupakan bahan baku plastik--dari India, Afrika, dan Amerika Serikat di tengah terganggunya suplai dari kawasan Timur Tengah.

Maman menyatakan bahwa upaya tersebut merupakan langkah jangka pendek untuk menstabilkan kebutuhan industri dalam negeri.

“Sekarang ini kita sudah dapat dari Afrika, India dan Amerika. Sekarang lagi proses administrasi,” kata Maman dalam temu media di Jakarta, Kamis.

“Kementerian Perdagangan sedang melakukan tindak lanjut untuk mengambil pasokan nafta dari Afrika, India dan Amerika,” kata dia menambahkan.

Selain mengamankan pasokan, Maman mengatakan bahwa pemerintah juga tengah menyiapkan strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada nafta. Strategi tersebut mencakup diversifikasi bahan baku plastik dengan memanfaatkan biomaterial seperti rumput laut dan singkong.

Rumput laut, menurutnya, telah diteliti sebagai bahan baku alternatif kantong plastik, meski biaya produksinya masih relatif tinggi karena pasar yang terbatas.

Pemerintah juga mengindikasikan rencana untuk menggandeng usaha kecil dan menengah (UKM) yang sudah bergerak dalam produksi plastik berbasis rumput laut.

Upaya ini diharapkan dapat memperluas kapasitas produksi sekaligus menekan biaya melalui skala industri yang lebih besar.

Maman menambahkan bahwa apabila kebijakan substitusi bahan baku plastik dari nafta ke rumput laut dapat didorong, maka biaya operasional maupun produksi berpotensi turun.

Saat ini, pemerintah disebut tengah melakukan pembahasan dan penjajakan dengan sejumlah UKM yang telah memproduksi plastik berbasis rumput laut.

Harga plastik di dalam negeri dilaporkan melonjak antara 30 hingga 80 persen menyusul memanasnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat-Israel, dan Iran.

Gangguan distribusi nafta, yang merupakan turunan minyak bumi, serta lonjakan harga minyak global disebut sebagai pemicu utama kenaikan tersebut.

Menurut data Independent Commodity Intelligence Services (ICIS), ekspor nafta dari Timur Tengah mencapai jutaan ton per tahun, dengan Arab Saudi dan Oman sebagai pemasok utama.

Arab Saudi mengekspor sekitar 3,6 juta ton nafta per tahun, sementara Oman mengekspor sekitar 2,7 juta ton per tahun. Selain itu, hampir 4 juta ton nafta melewati Selat Hormuz menuju Asia setiap bulan.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Indonesia amankan pasokan nafta dari India, Afrika dan AS



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026