Logo Header Antaranews Kupang

Wali Kota Kupang memperkuat kolaborasi pengelolaan air terpadu

Jumat, 1 Mei 2026 17:17 WIB
Image Print
Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo (keempat kiri) dalam pertemuan bersama pengurus Forum Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu Kota Kupang, guna membahas penguatan kolaborasi pengelolaan air terpadu untuk mengatasi krisis air. ANTARA/HO-Pemkot Kupang

Kupang, NTT (ANTARA) - Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo menegaskan komitmen memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan air terpadu guna mengatasi krisis di daerah itu.
“Pemerintah Kota Kupang siap mendukung penuh gerakan kolaboratif pengelolaan sumber daya air melalui Gerakan Tanam Air dan Forum SDA Terpadu,” katanya dalam keterangan di Kupang, NTT, Jumat.

Hal itu disampaikan saat melakukan pertemuan bersama pengurus Forum Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) Terpadu Kota Kupang periode 2026-2028.

Pertemuan tersebut menjadi momentum awal penguatan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam menjawab tantangan krisis air yang kian kompleks di Kota Kupang.

Ia menyampaikan, apresiasi atas inisiatif forum yang digerakkan oleh berbagai unsur, mulai dari akademisi, pemerintah, hingga komunitas peduli lingkungan.

“Saya percaya, pertumbuhan dimulai dari kemauan untuk mendengar. Pemerintah Kota Kupang membuka ruang selebar-lebarnya untuk kolaborasi. Apa pun yang bisa kita kerjakan bersama di 2026, mari kita wujudkan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Pemkot Kupang siap memberikan dukungan penuh terhadap program-program forum, mulai dari fasilitasi kegiatan, dukungan logistik, hingga penyediaan ruang sekretariat.

“Kalau ada kebutuhan, langsung komunikasikan. Prinsip saya jelas, harus komunikatif, responsif, dan kita dukung penuh. Ini kerja-kerja baik yang harus kita dorong bersama,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Forum Pengelolaan SDA Terpadu Kota Kupang Roddialek Pollo menjelaskan forum tersebut merupakan inisiatif masyarakat yang menghimpun berbagai pihak untuk membantu pemerintah dalam pengelolaan sumber daya air secara terpadu.

Menurut akademisi Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana itu, tantangan air di Kota Kupang tidak bisa ditangani secara sektoral, melainkan membutuhkan pendekatan kolaboratif berbasis ilmu pengetahuan dan partisipasi masyarakat.

“Kami hadir untuk membantu pemerintah. Forum ini berisi berbagai unsur, dari ilmuwan, praktisi, hingga komunitas. Semua bergerak bersama untuk satu tujuan: menjaga keberlanjutan air,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya langkah preventif seperti konservasi daerah aliran sungai (DAS) dan penguatan kebijakan berbasis lingkungan untuk menghadapi potensi krisis air dalam sepuluh tahun ke depan.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Forum Ani Talan memaparkan sejumlah aksi nyata yang telah dilakukan bahkan sebelum pengukuhan resmi forum, di antaranya penanaman ratusan pohon di kawasan DAS, pengembangan lubang biopori di sepuluh kelurahan, serta pembentukan forum kecil penjaga DAS di tingkat masyarakat.

Ia menambahkan, dari sekitar 270 pohon yang ditanam, tingkat keberhasilan mencapai lebih dari 90 persen.

Selain itu, forum juga aktif melakukan edukasi kepada masyarakat terkait konservasi air dan pelaporan kebocoran jaringan air bersih.

“Kami tidak hanya bicara konsep, tetapi sudah bergerak di lapangan. Antusiasme masyarakat sangat tinggi, tinggal kita memperkuat kolaborasi agar dampaknya lebih luas dan berkelanjutan,” ujar Ani.



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026