
Pemprov NTT mendorong bedah buku Seroja sebagai pembelajaran bencana

Kupang, NTT (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong forum bedah buku Seroja sebagai upaya memperkuat literasi kebencanaan dan pembelajaran dari penanganan bencana Siklon Tropis Seroja 2021 di daerah itu.
“Melalui kegiatan ini, kita diajak untuk melihat kembali apa yang belum berhasil dilakukan, mengevaluasi berbagai tantangan yang dihadapi, serta merumuskan langkah strategis agar penanganan bencana ke depan semakin cepat, terkoordinasi, tangguh, dan berorientasi pada keselamatan masyarakat,” kata Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Provinsi NTT Yohanes Oktovianus di Kupang, Selasa.
Hal itu disampaikannya dalam diskusi buku “Belajar tentang Bencana di Tengah Bencana”, yang merupakan pembelajaran dari Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana (SKPDB) di NTT pasca-Siklon Tropis Seroja pada 4-5 April 2021.
Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTT dan Program SIAP SIAGA Wilayah NTT. Adapun Program SIAP SIAGA merupakan kerja sama pemerintah Australia dan Indonesia yang berfokus pada penguatan sistem penanggulangan bencana.
“Lima tahun lalu, pada 4 hingga 5 April 2021, seluruh masyarakat NTT mengalami salah satu bencana hidrometeorologi terbesar dalam sejarah daerah ini. Siklon Tropis Seroja datang dengan kekuatan yang luar biasa,” ujarnya.
Menurut dia, penulisan buku tersebut bukanlah akhir dari proses, melainkan awal dari langkah bersama untuk membangun NTT yang lebih tangguh. Buku itu merekam pengalaman penanganan kedaruratan bencana yang penuh pengorbanan dan menjadi pembelajaran bersama.
Ia juga mengajak seluruh peserta menjadikan forum tersebut sebagai ruang berbagi pengalaman, memperkuat kolaborasi, serta merumuskan langkah strategis dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih efektif, responsif, dan berkelanjutan.
“Pemprov NTT berharap forum ini dapat memperkaya substansi buku yang sedang disusun, sehingga berbagai pengalaman lapangan, tantangan, inovasi, dan praktik baik dapat terdokumentasi secara utuh bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Sementara itu, Manajer Program SIAP SIAGA Wilayah NTT Silvia Fanggidae mengatakan buku tersebut bertujuan sebagai bahan pembelajaran, baik bagi pemerintah maupun masyarakat dalam merespons bencana Seroja 2021.
“Karena tujuannya adalah belajar, maka buku ini bersifat jujur. Ia menceritakan apa yang benar-benar terjadi, termasuk kritik, refleksi, hingga kebingungan yang dialami saat itu untuk dipelajari bersama,” ujar dia yang juga merupakan editor buku tersebut.
Menurut dia, buku tersebut merekam berbagai kejadian secara apa adanya, termasuk dinamika respons penanganan bencana di lapangan.
Penyusunannya dilakukan melalui proses panjang, seperti wawancara mendalam, triangulasi, verifikasi, serta focus group discussion, sehingga data yang disajikan dapat dipertanggungjawabkan.
“Buku ini merekam upaya pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi NTT, dalam menjalankan tanggung jawab di tengah situasi darurat, di mana empati dan tanggung jawab berjalan seiring dengan prosedur dan kewenangan,” ujarnya.
Silvia juga menerangkan bahwa buku tersebut telah disusun selama kurang lebih satu tahun dan saat ini masih dalam edisi terbatas untuk didiskusikan, belum dipublikasikan. Namun, sekitar 95 persen isinya telah selesai.
Karena itu, ia berharap kegiatan bedah buku tersebut menjadi forum pembelajaran bersama untuk memperkuat sistem penanggulangan bencana di NTT serta meningkatkan literasi kebencanaan yang juga menjangkau generasi muda.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pemprov NTT dorong bedah buku Seroja sebagai pembelajaran bencana
Pewarta : Yoseph Boli Bataona
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
