
Gubernur NTT dorong pengembangan ekonomi produktif tekan kemiskinan

Kupang (ANTARA) - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena mendorong pengembangan ekonomi masyarakat berbasis produktivitas dan kewirausahaan guna mempercepat pengentasan kemiskinan serta meningkatkan kesejahteraan warga di daerah itu.
“Kita harus mulai menuju pemberdayaan dan peningkatan produktivitas. Kita juga harus berhenti menjual bahan mentah saja dan mulai menghasilkan produk bernilai tambah,” kata Melki Laka Lena di Kupang, Jumat.
Hal ini disampaikan ketika menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional “Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat Berdampak” yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Widya Mandira Kupang.
Dalam seminar yang digelar secara virtual itu, Melki mengatakan salah satu persoalan mendasar yang dihadapi NTT saat ini adalah rendahnya produktivitas masyarakat yang berdampak pada tingginya ketergantungan pasokan dari luar daerah.
Menurut dia, kondisi tersebut turut memicu defisit perdagangan NTT yang mencapai Rp51 triliun sehingga dibutuhkan langkah strategis untuk memperkuat ekonomi lokal berbasis potensi daerah.
Pemerintah Provinsi NTT, lanjut dia, saat ini memfokuskan pembangunan ekonomi masyarakat pada peningkatan produktivitas di sektor pertanian, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), ekonomi kreatif, dan kewirausahaan sosial.
Ia menjelaskan peningkatan hasil produksi pertanian terus didorong melalui pemanfaatan teknologi dan pendekatan yang lebih moderen serta berkelanjutan.
Dalam paparannya, Melki juga menyampaikan tujuh pilar pembangunan NTT, yakni ekonomi berkelanjutan, tata kelola pemerintahan yang baik, pembangunan infrastruktur fisik dan digital, kesehatan, pendidikan, reformasi birokrasi dan hukum, serta kolaborasi multipihak.
Menurut dia, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, media, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mempercepat pembangunan daerah.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan ekonomi restoratif berbasis desa melalui penguatan ekosistem produksi, pengolahan, pemasaran, hingga akses pembiayaan.
“Yang dibutuhkan bukan sekadar program, tetapi ekosistem ekonomi yang terintegrasi dari desa ke pasar,” ujarnya.
Selain itu, Pemerintah Provinsi NTT juga mengembangkan program “One School One Product” melalui penguatan produksi karya siswa SMA dan SMK yang dipasarkan melalui NTT Mart.
Produk yang dihasilkan mencakup kuliner, kriya, hingga teknologi tepat guna sebagai bagian dari penguatan kewirausahaan di kalangan pelajar.
Melki turut mengajak mahasiswa untuk terus mengembangkan kreativitas, inovasi, dan kemampuan produktif yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Saya mengajak kita semua untuk tidak hanya berpikir ‘saya ada’, tetapi ‘saya berproduksi maka saya ada’,” katanya.
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
