Logo Header Antaranews Kupang

Pemkot Kupang mendorong efisiensi dan konservasi guna atasi krisis air

Minggu, 10 Mei 2026 17:54 WIB
Image Print
Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo (di podium) memberikan arahan dalam acara Pengukuhan Forum Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu (PSDAT) Kota Kupang Periode 2026-2029, di Kupang.  (ANTARA/HO-Pemkot Kupang)

Kupang, NTT (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendorong efisiensi penggunaan dan konservasi sumber daya air melalui pengelolaan terpadu, seiring pembentukan forum yang melibatkan berbagai pihak untuk menjawab krisis air di Kota Kupang.

“Air ini soal peradaban, karena air adalah sumber kehidupan. Air bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga sumber ekonomi, sumber kesehatan, bahkan sumber perdamaian. Karena itu pengelolaan air menjadi sangat penting bagi keberlangsungan Kota Kupang,” kata Wali Kota Kupang Christian Widodo di Kupang, Minggu.

Hal itu disampaika dalam acara Pengukuhan Forum Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu (PSDAT) Kota Kupang Periode 2026-2029.

Ia mengatakan forum tersebut bukan sekadar forum administratif, melainkan forum yang memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga kehidupan dan peradaban masyarakat Kota Kupang.

Menurutnya, persoalan air dapat menjadi potensi konflik apabila tidak dikelola secara baik dan berkelanjutan.

Christian juga menyoroti tantangan pengelolaan air di Kota Kupang yang tidak hanya dipengaruhi perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, tetapi juga pertumbuhan jumlah penduduk yang menyebabkan kebutuhan air terus meningkat.

Untuk itu ia menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, Perumda Air Minum, pemerintah provinsi, lembaga keagamaan, organisasi sosial kemasyarakatan, hingga komunitas dan LSM, dalam mendukung pengelolaan sumber daya air secara terpadu.

Sementara itu Ketua Forum PSDAT Kota Kupang Periode 2026-2029 Roddialek Pollo menegaskan forum yang baru dikukuhkan tersebut memiliki fungsi utama membantu Pemkot Kupang dalam menjawab berbagai persoalan pengelolaan air.

Menurutnya, air merupakan sumber utama kehidupan yang kini menjadi tantangan serius di Kota Kupang, terutama saat memasuki musim kemarau.

Ia menyebut kondisi tersebut berpotensi menimbulkan persoalan sosial bahkan konflik apabila tidak ditangani secara baik dan bersama-sama.

Dalam struktur forum, lanjutnya, dibentuk divisi mediasi yang melibatkan tokoh-tokoh agama seperti pendeta, romo, ustadz, dan pemuka agama lainnya, sebagai bagian dari upaya menjaga keharmonisan masyarakat dalam menghadapi persoalan air.

Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur masyarakat sangat penting karena pengelolaan air tidak dapat dilakukan secara sektoral, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, swasta hingga organisasi sosial kemasyarakatan.

Roddialek juga menyampaikan bahwa tugas utama forum adalah memberikan gagasan dan rekomendasi terkait konservasi air, efisiensi penggunaan air, serta pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026