Logo Header Antaranews Kupang

Wakil Ketua DPR desak Kemenlu pastikan kondisi WNI yang diculik Israel

Selasa, 19 Mei 2026 14:34 WIB
Image Print
Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa menjawab pertanyaan wartawan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (1/5/2026). (ANTARA/Fath Putra Mulya)

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa mendesak Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk memastikan kondisi sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang diculik oleh militer Zionis Israel ketika sedang berlayar dalam misi kemanusiaan ke Gaza, Palestina.

Menurut dia, Kemenlu perlu memastikan mereka dalam keadaan selamat agar memberikan ketenangan kepada keluarga para WNI yang diculik itu.

"Tentu kita berharap ya, dalam hal ini Kementerian Luar Negeri, pemerintah, untuk bisa berusaha ya," kata Saan di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa.

Dia pun yakin pemerintah kini tengah menaruh perhatian besar terhadap permasalahan tersebut karena menyangkut keselamatan anak bangsa. Di sisi lain, dia juga mengimbau kepada masyarakat untuk mengutamakan keselamatan dalam setiap misi kemanusiaan.

Sebelumnya, Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) yang merupakan Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini menyampaikan bahwa sembilan WNI yang ditangkap dan diculik itu terdiri atas lima aktivis kemanusiaan dan empat jurnalis.

Mereka, kata dia, bergabung dengan warga negara internasional lainnya untuk berlayar ke Gaza dari Turki. Namun, dia menyampaikan bahwa armada rombongan kemanusiaan yang bernama Global Sumud Flotilla itu dicegat oleh militer Israel pada Senin (19/5) sekitar pukul 15.00 dalam catatan Waktu Indonesia Barat (WIB).

"Tiga ratus tiga puluh dua (332) aktivis kemanusiaan dan jurnalis dari berbagai negara itu diculik saat ini statusnya. 332 orang itu sampai tadi pagi," kata Juwaini saat bertemu dengan Pimpinan MPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: DPR desak Kemenlu pastikan kondisi WNI yang diculik Israel



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026