Logo Header Antaranews Kupang

Ironi Piala Dunia inklusif dan sepak bola yang menyatukan dunia

Sabtu, 13 Juni 2026 15:03 WIB
Image Print
Penyanyi Shakira (bawah) tampil membawakan lagu Dai Dai dalam seremoni pembukaan Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko, Kamis (11/6/2026). (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/agr)

Jakarta (ANTARA) - Kemenangan besar 4-1 yang dipetik Amerika Serikat dari Paraguay dalam pertandingan pertama Grup D Piala Dunia 2026 pada Sabtu pagi menorehkan sejarah baru bagi tim asuhan Mauricio Pochettino itu.

Untuk pertama kalinya The Stars and Stripes mencetak empat gol dalam sebuah pertandingan Piala Dunia.

Kemenangan besar itu menaikkan moral Tim Ream cs untuk melangkah lebih jauh dan menjadi bekal besar untuk mendapatkan poin yang sama ketika mereka menghadapi Australia pekan depan dan Turki dua pekan berikutnya.

Ada ekspektasi besar mereka akan bisa melebihi pencapaian Piala Dunia 2002 ketika tuntas pada babak perempat final.

Amerika Serikat sekarang memang terlihat lebih kuat, lebih maju, dan lebih produktif dibandingkan ketika mereka menjadi tuan rumah pada 1994.

Kesebelasa AS merupakan salah satu tim yang terbilang sukses memanfaatkan status tuan rumah Piala Dunia. Edisi 1994 adalah buktinya.

Bagi negara yang lebih menyukai bola basket dan American Football ketimbang sepak bola, pencapaian AS itu sangat mengesankan.

Sayang, dalam tradisi pertandingan pertama Piala Dunia ketika sebuah negara menjadi tuan rumah perhelatan sepak bola terbesar di dunia itu, aksi The Stars and Stripes tidak disaksikan langsung di stadion oleh pemimpin mereka, Presiden Donald Trump.

Trump beralasan tidak bisa hadir karena jadwal yang padat. Padahal hampir dalam setiap pertandingan pertama tuan rumah Piala Dunia, pemimpin negara tuan rumah selalu hadir di stadion.

Trump terlihat menghindari dicemooh oleh rakyatnya sendiri yang menyaksikan laga pertama tim sepak bola nasionalnya itu, apalagi laga pertama AS itu diadakan di salah satu basis Partai Demokrat yang berseberangan dengan Trump dan Partai Republik.

Baik kota Los Angeles maupun negara bagian California yang menyelenggarakan pertandingan pertama tim besutan Mauricio Pochettino itu adalah basis dan pendukung utama Partai Demokrat.

Dua hari sebelumnya Trump dicemooh oleh penonton bola basket dalam gim keempat Final NBA antara tuan rumah New York Knicks dan San Antonio Spurs di Madison Square Garden, New York.

New York juga basis pendukung Partai Demokrat, dan bahkan menjadi pusat gerakan massa anti-Trump, mulai menyangkut Palestina sampai isu imigrasi dan kasus arsip Jeffrey Epstein.


Menampar FIFA

Apa yang dilakukan Trump adalah gambaran bahwa ternyata sepak bola dan Piala Dunia FIFA tidak seinklusif dan semenyatukan seperti diinginkan oleh badan sepak bola dunia FIFA dan presidennya, Gianni Infantino.

Perpecahan politik yang sudah sedemikian akut di AS ternyata tidak bisa didinginkan oleh panggung agung Piala Dunia FIFA, meski untuk sesaat.

Tapi yang lebih menyedihkan dari hal itu adalah fakta bahwa kebijakan Donald Trump nyata-nyata berseberangan dengan cita-cita FIFA untuk hadirnya Piala Dunia yang inklusif yang bukan saja direpresentasikan oleh jumlah peserta yang lebih banyak yakni 48 tim dan digelar di tiga negara, tapi juga dikuatkan oleh sikap tuan rumah yang terbuka juga untuk siapa pun.

Jauh sebelum kickoff Piala Dunia 2026, banyak kalangan yang sudah menyatakan kekhawatiran sepak terjang Trump bisa mengganggu Piala Dunia 2026.

Hal itu terutama kebijakannya dalam melarang masuk warga sejumlah negara, termasuk Haiti dan Iran yang merupakan peserta Piala Dunia 2026, dan kebijakannya yang super keras dalam soal imigrasi.

Ternyata kekhawatiran itu nyata terjadi ketika sejumlah tim, bukan hanya Iran dan Haiti, mendapatkan perlakuan memalukan nan menyakitkan dari aparat AS, seperti menggeledah skuad beberapa timnas, bagaikan orang yang dicurigai akan berbuat kejahatan, padahal mereka masuk ke AS atas "undangan" FIFA.

Perlakuan itu bahkan dinilai diskriminatif sehingga makin bertentangan dengan semangat FIFA dan Infantino menyelenggarakan Piala Dunia yang inklusif dan menyatukan umat manusia.

Yang terjadi di lapangan, tepatnya di Amerika Serikat karena Meksiko dan Kanada malah sangat terbuka dan ramah kepada peserta Piala Dunia 2026 serta pendukungnya, bertentangan dengan keadaan yang didambakan Infantino.

Bahkan AS menolak memberikan visa kepada wasit terbaik Afrika, Omar Abdulkadir Artan. Padahal wasit asal Somalia ini akan memimpin pertandingan Piala Dunia 2026 dan sudah memegang visa diplomatik serta rekomendasi FIFA. Warga negara Somalia termasuk yang dilarang masuk ke AS oleh pemerintahan Trump.

AS juga menolak skuad Iran menjadikan bumi AS sebagai base camp mereka selama berada di Piala Dunia 2026, padahal seluruh laga fase grup Iran diadakan di AS.

Faktor Iran yang tak memiliki hubungan diplomatik dengan AS adalah penyebabnya, tapi faktor terbesar tentunya status negara ini yang tengah diperangi oleh AS.

Namun percayalah langkah pemerintah Trump ini sebenarnya menampar sekaligus mempermalukan FIFA dan Infantino lebih keras ketimbang menyakiti perasaan Iran.


Mungkin gemas

Badan sepak bola dunia yang tiga tahun lalu begitu garang kepada Indonesia karena menolak memberikan visa kepada tim Israel untuk Piala Dunia U20 FIFA sampai Indonesia dicabut haknya menjadi tuan rumah turnamen muda FIFA itu, kini malah tak berdaya.

Infantino pun hanya memberikan komentar normatif. Dia dan FIFA tak bisa berbuat apa-apa.

Tetapi ketika ditanya oleh kantor berita Reuters, apakah FIFA menyesal telah memilih AS sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026, Infantino menjawab "sama sekali tidak".

Namun mungkin jauh di lubuk hatinya Infantino gemas terhadap apa yang dilakukan oleh AS dan Trump, terutama setelah AS menolak memberikan visa masuk kepada wasit Artan.

Bayangan rusaknya impian menggelar Piala Dunia yang inklusif dan sepak bola yang menyatukan dunia pun semakin jelas.

Sejumlah kalangan, termasuk mantan presiden FIFA Sepp Blatter, malah menyerukan penggemar sepak bola mengabaikan Piala Dunia 2026 di AS akibat prilaku buruk pemerintahan Trump.

Seruan Blatter ini meneruskan ajakan Mark Pieth, jaksa Swiss yang pernah mengetuai Komite Tata Kelola Independen FIFA, yang meminta penggemar sepak bola seluruh dunia agar lebih baik menyaksikan Piala Dunia 2026 dari rumah, ketimbang nanti dipermalukan dan bahkan diusir oleh aparat AS begitu tiba di AS untuk menyaksikan timnas kesayangan mereka.

Entah imbauan itu yang efektif atau malah akibat kebijakan imigrasi yang keras yang diterapkan Trum, gejala tidak akan banyak penonton yang hadir di stadion-stadion, sudah terlihat. Apalagi di AS, sepak bola tidak sepopuler basket dan American Football.

Berbalik180 derajat dengan AS, pemerintah Meksiko dan Kanada malah membuka seluas mungkin kepada penggemar sepak bola sejagat untuk datang mendukung langsung timnas kesayangan mereka.

Tapi ini baru dua hari penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Situasi bisa lebih baik nanti, tapi juga mungkin semakin buruk, apalagi Trump lebih peduli kepada diri sendiri, ketimbang mengakomodasi keinginan pihak lain, termasuk FIFA.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Ironi Piala Dunia yang inklusif dan sepak bola yang menyatukan dunia



Oleh
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026