Logo Header Antaranews Kupang

DWP Kemenkum NTT perkuat peran keluarga cegah leptospirosis

Selasa, 16 Juni 2026 17:30 WIB
Image Print
Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kanwil Kemenkum NTT menggelar sosialisasi edukasi kesehatan bertema “Peran Strategis Ibu dalam Pencegahan Leptospirosis” di Kupang.  ANTARA/HO-Kemenkum NTT

Kupang, NTT (ANTARA) - Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Wilayah Kementerian Hukum Nusa Tenggara Timur (Kemenkum NTT) mengedukasi keluarga tentang pencegahan leptospirosis guna meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan melalui hewan terinfeksi.

“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman anggota Dharma Wanita dan keluarga besar Kanwil Kemenkum NTT mengenai bahaya leptospirosis serta langkah-langkah pencegahannya dalam kehidupan sehari-hari,” kata Ketua DWP Kanwil Kemenkum NTT dr Dwita Anastasia Deo di Kupang, Selasa.

Ia menjelaskan leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan bakteri Leptospira dan ditularkan melalui hewan yang terinfeksi, terutama tikus. Penyakit ini dikenal luas masyarakat sebagai “penyakit kencing tikus”.

Menurut dia, bakteri tersebut dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka terbuka pada kulit, selaput lendir seperti mata, hidung, dan mulut, maupun melalui makanan dan minuman yang telah terkontaminasi.

“Kewaspadaan dini adalah kunci untuk melindungi keluarga dari infeksi bakteri yang tidak kasat mata. Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan dan sanitasi rumah tangga harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Ia menjelaskan berbagai gejala leptospirosis yang perlu diwaspadai. Pada fase awal, penderita umumnya mengalami demam tinggi mendadak, menggigil, sakit kepala hebat, nyeri otot, mual, muntah, serta kehilangan nafsu makan.

Pada fase berat atau yang dikenal sebagai Penyakit Weil, kondisi dapat berkembang menjadi gangguan serius seperti kulit dan mata menguning (ikterus), gangguan fungsi hati dan ginjal, perdarahan, gangguan pernapasan, hingga penurunan kesadaran.

Ia menjelaskan apabila terdapat anggota keluarga menunjukkan gejala leptospirosis, terutama setelah terpapar banjir atau lingkungan yang berisiko tinggi, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah segera membawa penderita ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.

Selain itu, keluarga perlu memberikan informasi kepada tenaga kesehatan mengenai riwayat kontak dengan air banjir, genangan air, maupun lingkungan yang banyak terdapat tikus dalam dua minggu terakhir guna mempermudah proses diagnosis dan penanganan.

Dwita juga menekankan pentingnya langkah-langkah pencegahan sederhana yang dapat dilakukan di rumah, seperti menyimpan makanan dan air minum dalam wadah tertutup, menjaga kebersihan lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, serta mengajarkan anak-anak untuk tidak bermain di genangan air dan selalu mencuci tangan sebelum makan.

Ia berharap, melalui kegiatan tersebut para peserta dapat menjadi pelopor dalam menjaga kesehatan keluarga serta berperan aktif dalam menyebarluaskan informasi mengenai pencegahan leptospirosis di lingkungan masing-masing.

Kepala Kanwil Kemenkum NTT Silvester Sili Laba menyampaikan apresiasi atas inisiatif Dharma Wanita Persatuan dalam menyelenggarakan kegiatan edukasi kesehatan yang dinilai sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.

“Peran ibu dalam keluarga sangat strategis, tidak hanya sebagai pendidik pertama bagi anak-anak, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan keluarga. Melalui kegiatan ini, saya berharap anggota Dharma Wanita dapat menjadi agen edukasi yang mampu menyebarluaskan informasi mengenai pencegahan leptospirosis kepada keluarga dan lingkungan sekitar,” ujarnya.



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026