Harga Ikan di Kupang meroket akibat cuaca buruk

id harga ikan naik

Harga Ikan di Kupang meroket akibat cuaca buruk

Seorang nelayan Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur sedang mengangkut ikan dari perahu motor menuju pasar ikan Oeba , Sabtu (1/6). (ANTARA FOTO/Benny Jahang)

Harga ikan segar di sejumlah pasar ikan di Kota Kupang, meroket karena pasokan ikan terbatas akibat cuaca buruk yang sedang melanda wilayah perairan NTT beberapa hari terakhir.
Kupang (ANTARA) - Harga ikan segar di sejumlah pasar ikan di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) meroket karena pasokan ikan terbatas akibat cuaca buruk yang sedang melanda wilayah perairan NTT beberapa hari terakhir.

"Harga ikan mulai naik sejak satu minggu ini karena angin kencang serta gelombang tinggi di perairan NTT, sehingga pasokan ikan dari para nelayan sangat terbatas," kata Ama Kale Lado kepada Antara di Pasar ikan Oeba Kupang, Sabtu (1/6).

Menurut dia, satu ember ikan kombong yang biasanya dijual para nelayan kepada para pedagang dengan harga Rp300.000 per ember saat ini naik menjadi Rp700.000 per ember.

Hal yang sama juga untuk jenis ikan sardin yang sebelumnya dijual dengan harga Rp300.000 naik menjadi Rp600.000 per ember.

Baca juga: Hentikan penggunaan bom saat melaut

"Harga ikan naik drastis sebagai dampak cuaca buruk yang melanda perairan NTT saat ini," kata Ama Kale Lado.

Sementara harga ikan di pasar untuk ikan kombong dijual dua kumpul Rp50.000 dari sebelumnya biasa dijual para pedagan tiga kumpul Rp50.000.

Ama Kale Lado mengatakan kendati harga ikan segar mengalami lonjakan, namun masyarakat Kota Kupang tetap membeli karena ikan sudah menjadi konsumsi utama masyarakat di ibu kota provinsi berbasis kepulauan ini.

Menurut dia, harga ikan segar mengalami kenaikan apabila cuaca di perairan NTT sedang buruk, namun apabila angin kencang dan gelombang mulai redah maka harga ikan di pasar-pasar Kota Kupang mulai stabil.

Baca juga: Dua nelayan pengebom ikan ditangkap polisi
Baca juga: Menurut HNSI NTT, perlu ada standar harga penjualan ikan
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar