Logo Header Antaranews Kupang

Undana targetkan optimasi 5.416 ha lahan NTT mendukung ketahanan pangan

Rabu, 30 September 2026 19:27 WIB
Image Print
Rapat koordinasi terkait SID di Kupang oleh Undana. ANTARA/Ho-Undana

Kupang (ANTARA) - Tim Pelaksana Survei Investigasi dan Desain (SID) Optimasi Lahan (Oplah) Universitas Nusa Cendana (Undana) menargetkan penanganan lahan seluas 5.416 hektare di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendukung ketahanan pangan di daerah.

Guru Besar sekaligus Staf Pengajar Program Studi Teknik Sipil/Magister Rekayasa Sipil Undana Prof. Dr. Ir. Denik Sri Krisnayanti di Kupang, Rabu mengatakan lima ribuan hektare lahan itu tersebar di delapan kabupaten di NTT.

“Untuk NTT, seluruh target SID seluas 5.416 hektare telah rampung 100 persen. Saat ini kita masuk pada tahapan pemberkasan fisik untuk memastikan seluruh hasil pekerjaan terdokumentasi dengan baik," katanya.

Delapan kabupaten itu tersebar di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan (TTS), Belu, Manggarai, Manggarai Barat, Ngada, dan Nagekeo.

Menurut Denik, penyelesaian target secara kuantitatif harus diikuti dengan pemenuhan kualitas teknis di lapangan agar lahan yang dioptimalkan benar-benar memberikan manfaat bagi peningkatan produksi pertanian.

“Jangan sampai target luasan tercapai secara administrasi tetapi tidak memenuhi kriteria teknis. Kualitas lokasi lebih penting daripada sekadar mengejar luasan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu aspek penting dalam SID Oplah adalah memastikan ketersediaan dan kondisi sumber air di lokasi. Tim juga harus mengidentifikasi berbagai faktor pembatas yang dapat memengaruhi produktivitas lahan.

Faktor tersebut antara lain ancaman kekeringan, kondisi drainase, erosi, sedimentasi, hingga kerusakan bangunan air. Hasil investigasi tersebut menjadi dasar dalam menyusun desain optimasi lahan yang sesuai dengan kondisi masing-masing lokasi.

“Desain tidak boleh sekadar copy-paste. Setiap lokasi memiliki karakteristik yang berbeda sehingga harus didasarkan pada hasil pengukuran dan investigasi yang akurat,” katanya.

Denik mengatakan pendekatan tersebut penting untuk memastikan intervensi optimasi lahan dapat meningkatkan indeks pertanaman (IP) sekaligus produktivitas petani.

Pelaksanaan teknis SID Oplah Undana dipimpin Wakil Rektor I Bidang Akademik Prof. Dr. drh. Annytha I.R. Detha, M.Si., selaku ketua tim, dengan melibatkan tenaga ahli dari sejumlah bidang, termasuk pemetaan, sosial ekonomi, sumber daya air, dan agroteknologi.

Capaian Undana tersebut menjadi bagian dari evaluasi Kementerian Pertanian melalui Direktorat Pemetaan Lahan dan Irigasi Pertanian. Secara nasional, target SID Oplah 2026 mencapai 300.030 hektare, dengan realisasi kontrak 288.131 hektare atau 96,03 persen dan SID yang telah rampung 256.402 hektare atau 88,99 persen.

Selain kualitas teknis, Denik mengatakan kelengkapan administrasi menjadi bagian penting dalam penyelesaian kegiatan SID Oplah yang dilaksanakan melalui mekanisme Swakelola Tipe II.

Dokumen yang harus dilengkapi antara lain berita acara bersama kelompok tani, logbook kegiatan, dokumentasi foto yang memiliki referensi geografis, terutama terkait sumber air dan bangunan, serta dokumen pertanggungjawaban anggaran sesuai Standar Biaya Masukan (SBM).

“Apa yang dikerjakan harus terdokumentasi, dan apa yang didokumentasikan harus dapat dibuktikan telah dikerjakan,” katanya.

Ia menambahkan, kelengkapan dokumentasi tersebut diperlukan untuk memastikan hasil pekerjaan dapat diverifikasi dan dipertanggungjawabkan apabila dilakukan audit maupun pemeriksaan lapangan.

Dia menambahkan, hingga September 2026, realisasi keuangan kegiatan SID Cetak Sawah mencapai 36,69 persen dari total pagu Rp205,88 miliar. Pemerintah menargetkan seluruh kegiatan tersebut dapat dituntaskan pada Desember 2026.

Lebih lanjut kata dia, untuk mempercepat pelaksanaan, Kementerian Pertanian mendorong pemantauan berkala, pelaksanaan survei lapangan secara paralel, percepatan kelengkapan dokumen keluaran setiap termin, serta penguatan sinergi dengan pemerintah daerah, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dan Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPLIP).



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026