Penduduk miskin di NTT bertambah 12.210 orang

id BPS NTT

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur, Maritje Pattiwaellapea (Antara foto/Aloysius Lewokeda)

BPS NTT mencatat jumlah penduduk miskin di provinsi berbasiskan kepulauan ini bertambah sebanyak 12.210 orang pada Maret 2019 jika dibandingkan dengan posisi pada September 2018.
Kupang (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat jumlah penduduk miskin di provinsi berbasiskan kepulauan ini bertambah sebanyak 12.210 orang pada Maret 2019 jika dibandingkan dengan posisi pada September 2018.

"Penduduk miskin di NTT pada Maret sebesar 21,09 persen yaitu 1.146.320 orang atau meningkat 12.210 orang terhadap posisi penduduk miskin pada September 2018," kata Kepala BPS Provinsi NTT, Maritje Pattiwaellapea di Kupang, Senin (15/7).

Sedang, kata Maritje, jika dibandingkan Maret 2019 terhadap Maret 2018, jumlah penduduk miskin meningkat sebanyak 4.150 orang. Jumlah penduduk miskin ini dihitung dengan pendekatan kebutuhan dasar terkait ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskinan.

Maritje menjelaskan, pola perkembangan penduduk miskin di provinsi setempat bersifat fluktuatif. Dari Maret 2018 ke September 2018, lanjutnya, sempat menurun jauh dari 21,35 persen menjadi 21,03 persen, namun naik pada Maret 2019 sebesar 0,06 persen.

Ia menyebutkan, indikator makro yang memicu peningkatan penduduk miskin ini seperti, nilai tukar petani yang menurun sebesar 1,6 persen dibandingkan September 2018.

Baca juga: NTT miskin tapi beli pulsa sampai triliunan rupiah

"Ini menunjukkan pendapatan petani masih lebih kecil dibandingkan nilai yang harus dibayar untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga maupun usaha produksinya," katanya. Selain itu, lanjutnya, inflasi di pedesaan menunjukkan indeks konsumsi yang paling tinggi mencapai 2,19 persen.

Ia menjelaskan, selama September 2018 sampai Maret 2019, kondisi inflasi umum cukup tinggi mencapai 2,02 persen walaupun secara nasional masih terkendali.

"Bahan makanan menjadi kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi dengan kenaikan hingga 4,17 persen," katanya seraya menambahkan perbedaan jumlah penduduk miskin antara kota dan desa di NTT masih sangat tinggi yaitu 8,84 persen berbanding 24,91 persen.

Baca juga: Ribuan rumah layak huni untuk warga miskin di Ngada
Baca juga: 60.520 rumah layak huni untuk warga miskin NTT
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar