12 puskesmas prototype dibangun di perbatasan

id Puskesmas prototype

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu Theresia Saik (kedua kiri) hadir sebagai salah satu narasumber dalam acara dialog bertema "Indonesia Menyapa Perbatasan: Melindungi generasi di perbatasan dari stunting" yang digelar di Kantor RRI Atambua, Kota Atambua, Sabtu. (Antara foto/Kornelis Kaha)

Pemerintah segera bangun 12 puskesmas prototype di wilayah perbatasan Kabupaten Belu dengan Timor Leste.

Atambua (ANTARA) - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu, Theresia Saik mengemukakan sebanyak 12 pusat pelayanan kesehatan masyarakat  atau puskesmas prototype  dibangun Pemerintah Pusat di kabupaten yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste itu.

"Ada 12 puskesmas prototype (model) yang dibangun di Kabupaten Belu dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Pusat," katanya kepada ANTARA di sela-sela acara dialog tentang stunting yang digelar di Kantor RRI Atambua, Kota Atambua, ibu kota Kabupaten Belu, Sabtu (3/8).

Ia mengatakan hal itu menjawab pertanyaan seputar pembangunan fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Belu yang merupakab wilayah perbatasan negara Indonesia-Timor Leste.

Theresia mengatakan, sebanyak 11 puskesmas prototype telah selesai dibangun dan sudah digunakan, sementara satu Puskesmas di Desa Rafae, Kecamatan Rai Manuk saat ini sedang dibangun.

"Dari 12 puskesmas ini ada delapan dibangun dengan dukungan DAK (Dana Alokasi Khusus ) armasi dan sisanya DAK reguler," katanya.

Theresia mengatakan, pemerintah daerah sangat berterima kasih atas dukungan pembangunan fasilitas kesehatan ini dalam upaya bersama mewujudkan pelayanan kesehatan yang memadai di wilayah perbatasan.

Baca juga: Puskesmas Oesao naik status jadi RS Tipe D di Kabupaten Kupang

Menurutnya, sejak puskesmas-puskesmas beroperasi, warga setempat juga sangat antusias berdatangan untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan.

"Pelayanan kesehatan juga jadi lebih dekat sehingga mudah dijangkau, selain itu gedung Puskesmas juga sangat bagus dan nyaman," katanya.

Theresia menambahkan, keberadaan belasan puskesmas tersebut juga dimanfaatkan untuk mendukung upaya pencegahan kasus gizi buruk yang masih tinggi di daerah setempat.

"Kami berupaya dengan mendorong agar persalinan dilakukan di puskesmas-puskesmas tersebut maupun rumah sakit sehingga ibu-ibu yang bersalin dipastikan mendapat penanganan yang memadai termasuk asupan gizi untuk bayi," katanya.

Acara dialog yang bertema "Indonesia Menyapa Perbatasan: Melindungi generasi perbatasan dari stunting" itu dihadiri puluhan warga dari kalangan ibu-ibu, LSM, organisasi kepemudaan dan organisasi keagamaan.

Hadir sebagai narasumber dari sejumlah pimpinan instansi teknis Pemerintah Kabupaten Belu di antaranya, Theresia Saik bersama Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D) Frans Manafe dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sabina Mau Taek.

Dialog ini digelar melalui kerja sama Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) bersama Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA dan Radio Republik Indonesia (RRI).

Baca juga: Empat puskesmas di Kabupaten Kupang jadi rujukan
Baca juga: 12 puskesmas prototipe dibangun di perbatasan Belu-Timor Leste

Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar