Artikel - Akankah semua rumah tangga di NTT dapat menikmati listrik?

id Listrik

Artikel - Akankah semua rumah tangga di NTT dapat menikmati listrik?

Petugas PT PLN (Persero) Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur sedang mengerjakan jaringan listrik desa di Pulau Flores. ANTARA/HO-PT PLN Wilayah NTT/aa)

Sambungan listrik gratis ini untuk mempercepat peningkatan rasio elektrifikasi listrik di NTT yang saat ini baru mencapai 72 persen dan masih berada pada posisi terendah secara nasional.
Kupang (ANTARA) - Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Josef Nae Soi mengapresiasi upaya PT PLN (Persero) yang terus-menerus dan tanpa henti membangun sistem kelistrikan yang terlihat dengan peningkatan rasio elektrifikasi listrik di provinsi berbasiskan kepulauan itu.

Saat awal  menjabat pada September 2018,  menurut  Nae Soi, rasio elektrifikasi listrik di NTT baru mencapai 61 persen, namun pada Juni 2019 terus meningkat menjadi 72 persen.

Selain membangun kelistrikan, PLN juga telah membantu penyambungan listrik gratis kepada 11.000 rumah tangga per April 2019 melalui program CSR perusahaan plat merah itu. Bantuan penyambungan listrik ke rumah-rumah penduduk ini menjadi harapan pemerintah, terutama mereka yang belum mampu secara ekonomi.

Atas dasar itu, Nae Soi juga berharap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya maupun perusahaan swasta nasional juga menyalurkan bantuan penyambungan listrik agar rasio elektrifikasi bisa meningkat dengan cepat di Nusa Tenggara Timur.

Sebab, wilayah provinsi berbasis kepulauan ini tidak hanya memiliki energi matahari sebagai sumber energi baru terbarukan (EBT), tetapi juga memiliki energi panas bumi yang banyak di Pulau Flores, tenaga angin di Kabupaten Timor Tengah Selatan, arus laut, air terjun, yang bisa digunakan untuk mengurangi pemanfaatan bahan bakar minyak maupun batu bara.

Harapan Nae Soi itu perlahan terjawab dengan penyambungan listrik gratis untuk 253 rumah tangga di wilayah Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang bersumber dari sumbangan para aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kementerian ESDM.

Bantuan listrik gratis itu diserahkan langsung oleh Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana dalam kunjungannya ke Kelurahan Sonraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, Rabu (14/8/2019).

Dia mengakui masih banyak warga yang sampai saat ini belum menikmati listrik karena terkendala biaya pemasangan.
"Kami dapat laporan bahwa biaya pemasangan listrik di sini pada kisaran antara Rp1,5 juta - Rp2juta. Ini berat buat masyarakat kecil," kata Rida Mulyana.

Atas dasar laporan tersebut, Menteri ESDM Ignasius Jonan kemudian meminta seluruh ASN di lingkungan Kementerian ESDM untuk ikut membantu masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, agar mereka pun bisa menikmati listrik.

"Jadi kami semua di Kementerian ESDM menyisihkan penghasilan untuk membantu penyambungan listrik warga dan terakhir terkumpul sekitar Rp1,8 miliar," katanya. Bantuan ini tidak hanya untuk warga Kabupaten Kupang, namun juga daerah-daerah lain di NTT maupun di seluruh Tanah Air.

Rida Mulyana berharap agar warga penerima bantuan dapat memanfaatkan listrik tersebut untuk menghidupkan perekonomiannya dengan dukungan listrik yang lebih memadai.
2020, semua rumah tangga di NTT berlistrik (ANTARA Foto/Aloysius Lewokeda))
Hadiah kemerdekaan
Masyarakat di Kelurahan Sonraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang sangat mengapresiasi hadirnya bantuan penyambungan listrik gratis yang disalurkan pihak Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).

"Kami sangat berterima kasih atas bantuan Pemerintah, khususnya Kementerian ESDM ini, kami tidak lagi menggunakan pelita, sekarang ada meteran listrik sendiri. Sudah 74 tahun lamanya, kami merindukan penerangan dari listrik. Ini merupakan hadiah kemerdekaan terindah bagi kami di Sonraen ," kata Yohat Runesi (35),  warga setempat.

Yohat Runesi bersama masyarakat penerima bantuan gratis itu menyadari bahwa nilai uang sejumlah Rp2 juta lebih untuk biaya pemasangan meteran listrik itu, bukanlah sebuah harga yang murah untuk ukuran mereka yang lemah secara ekonomi.

Kondisi ini yang membuat ia bersama isteri dan empat anaknya hanya menggunakan penerangan dari pelita selama ini. Keluarganya sempat memanfaatkan arus listrik yang ditarik dari meteran milik tetangga, namun dengan kapasitas pemakaian yang terbatas dan hanya pada malam hari.

"Tapi sekarang, sudah ada meteran listrik sendiri yang bisa kami gunakan pada siang dan malam hari," katanya.

Sementara itu, Charles Nabut, seorang warga lainnya di Kelurahan Sonraen, mengaku bersyukur karena mendapatkan bantuan penyambungan listik gratis dari Kementerian ESDM.

Dia menuturkan selama 4 tahun berumah tangga hanya menggunakan pelita, dan akhirnya bisa menikmati listrik yang disambung secara gratis oleh pemerintah." Ini merupakan hadiah kemerdekaan terindah bagi kami di Sonraen," katanya.

Kehadiran listrik di suatu wilayah pasti akan memudahkan berbagai aktivitas rumah tangga, termasuk mendukung usaha yang dijalani isterinya selama ini. "Ada usaha salon kecil-kecilan yang dikerjakan oleh isteri saya, tapi selama ini numpang pakai listrik dari tetangga. Kini, usaha salon akan terasa lebih mudah," ujarnya.

Demi mewujudkan mimpi masyarakat NTT untuk menikmati listrik tanpa kecuali, PT PLN (Persero) Wilayah NTT melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) terus melakukan pemasangan meteran secara gratis kepada masyarakat tidak mampu di Kabupaten Belu, wilayah yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste.

Penerima bantuan sosial dari program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) listrik gratis di Kabupaten Belu berjumlah 959 pelanggan, untuk tahap pertama sudah tersambung sebanyak 847 rumah tangga
Direktur Pengadaan Strategis 2, PT PLN (Persero) Djoko Abumanan berjabatan tangan dengan seorang warga di Kelurahan Sonraen, Kabupaten Kupang, di selah-selah acara penyerahan bantuan listrik gratis dari program Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Rabu (14/8/2019). (ANTARA FOTO/Aloysius Lewokeda)
Posisi terendah
General Manager PT PLN Wilayah NTT, Ignatius Rendroyoko mengatakan bantuan sambungan listrik gratis ini untuk mempercepat peningkatan rasio elektrifikasi listrik di NTT yang saat ini baru mencapai 72 persen dan masih berada pada posisi terendah secara nasional.

Secara keseluruhan program penyambungan listrik gratis akan diberikan kepada 11.000 rumah tangga yang tersebar di Provinsi NTT. Data dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2) menyebutkan masih terdapat sebanyak 17.259 rumah tangga miskin di provinsi NTT yang belum belistrik.

Untuk itu, PT PLN Wilayah NTT terus memprioritaskan melistriki belasan ribu rumah tangga tersebut yang dibagi dalam dua tahap untuk mengejar rasio elektrifikasi yang ditargetkan mencapai 90 persen di dalam tahun 2019.

Tahap pertama diberikan melalui program CSR PLN dengan target 11.000 rumah, dan tahap selanjutnya sebanyak 6.529 RT melalui bantuan lain seperti sinergi BUMN, dana sosial banda usaha sektor ESDM, dan lainnya.

Dia berharap, pasokan listrik yang sudah tersambung gratis seperti di Kabupaten Belu yang merupakan wilayah terdepan NKRI itu dapat dinikmati masyarakat setempat untuk mendukung berbagai aktivitas perekonomiannya.

Listrik adalah kebutuhan utama rakyat Indonesia, karena tanpa listrik roda perekonomi bangsa bisa macet total. Pasalnya banyak pabrik dan industri besar yang menggunakan listrik dan bergantung pada listrik.

Dalam kehidupan sehari-hari pun manusia mengandalkan listrik, mulai dari memasak, belajar dan sebagai penerangan pada malam hari, sebab manfaat energi listrik bisa dijadikan sebagai sumber penerangan. .

Namun, kesemuanya ini bisa terjadi, berkat usaha dari ilmuwan Inggris Michael Faraday yang telah menjadikan listrik sebagai teknologi yang banyak gunanya bagi umat manusia di muka bumi ini. Maka tidak mengherankan jika Michael Faraday kemudian dijuluki sebagai Bapak Listrik.

Penemuan Faraday pertama yang penting di bidang listrik terjadi tahun 1821. Dua tahun sebelumnya Oersted telah menemukan bahwa jarum magnit kompas biasa dapat beringsut jika arus listrik dialirkan dalam kawat yang tidak berjauhan.

Ini membikin Faraday berkesimpulan, jika magnit diketatkan, yang bergerak justru kawatnya. Bekerja atas dasar dugaan ini, dia berhasil membuat suatu skema yang jelas dimana kawat akan terus-menerus berputar berdekatan dengan magnit sepanjang arus listrik dialirkan ke kawat.
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian ESDM, Rida Mulyana, menyalahkan meteran listrik di salah satu rumah warga penerima bantuan penyambungan listrik gratis dari Kementerian ESDM di Kelurahan Sonraen, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Rabu. (ANTARA FOTO/Aloysius Lewokeda)
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar