NTT fasilitasi pemulangan 250 warganya korban kerusuhan Wamena

id warga ntt di papua

NTT fasilitasi pemulangan 250 warganya korban kerusuhan Wamena

Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Benediktus Polo Maing. (ANTARA FOTO/Benny Jahang)

Pemerintah NTT akan memfasilitas pemulangan 250 warga asal provinsi berbasis kepulauan itu yang menjadi korban kerusuhan di Wamena, Provinsi Papua.
Kupang (ANTARA) - Pemerintah Nusa Tenggara Timur akan memfasilitas pemulangan 250 warga asal provinsi berbasis kepulauan itu yang menjadi korban kerusuhan di Wamena, Provinsi Papua.

Sekretaris Daerah (Sekda), Provinsi Nusa Tenggara Timur Benediktus Polo Maing menyampaikan hal itu dalam suratnya yang ditujukan kepada para bupati/wali kota di NTT yang diperoleh ANTARA di Kupang, Sabtu (12/10)..

Dalam surat bernomor BU.100/08/Dinsos/2019 tanggal 11 Oktober 2019 perihal penanganan dampak kerusuhan Wamena menyebutkan bahwa warga Nusa Tenggara Timur yang terdampak kerusuhan Wamena diperkirakan berjumlah 1.500 orang.

"Warga NTT yang berkeinginan untuk dikembalikan ke NTT sekitar 250 orang," kata Benediktus Polo Maing.

Baca juga: Korban meninggal di Wamena jadi 23 orang
Baca juga: Gubernur Papua ancam hentikan beasiswa mahasiswa eksodus


Ia mengatakan, Pemerintah Nusa Tenggara Timur akan memfasilitas pemulangan 250 warga asal NTT dari Papua dengan menggunakan transportasi laut dan darat.

Benediktus Polo Maing tidak menjelaskan kapan warga asal NTT itu dipulangkan dari Papua menuju NTT.

Menurut Benediktus Polo Maing, penanganan terhadap warga NTT yang pulang dari Papua ketika tiba di kabupaten/kota menjadi tangungjawab masing-masing pemerintah setempat.

Benediktus Polo Maing mengatakan, pemerintah NTT terus melakukan kordinasi dengan pemerintah Papua maupun warga NTT di Papua dan Wamena guna mengetahui penanganan terhadap 1.500 warga NTT yang terdampak kerusuhan di Papua. 

Baca juga: Organisasi kepemudaaan di Kupang gelar aksi Save Papua
Baca juga: Papua Terkini - Merindukan Istana Presiden di Tanah Papua
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar