Bisakah ekspor langsung dari Pelabuhan Ende?

id Pertanian

Bisakah ekspor langsung dari Pelabuhan Ende?

Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Ende drh. Yulius Umbu Hunggar (ketujuh dari kanan) bersama narasumber dan pemangku kepentingan foto bersama seusai Rapat Koordinasi dan Sinergitas serta Giat Ekspor dan Investasi Pertanian (ANTARA FOTO/HO-Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Ende)

Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Ende Kementerian Pertanian di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur mendorong Pemerintah Kabupaten Ende mengupayakan ekspor langsung ke negara tujuan..
Kupang (ANTARA) - Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Ende Kementerian Pertanian di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur mendorong Pemerintah Kabupaten Ende mengupayakan ekspor langsung ke negara tujuan berbagai produk atau komoditas pertanian yang dimiliki daerah itu..

Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Ende Yulius Umbu Hunggar di Ende, Selasa (10/12), usai menghadiri Rapat Koordinasi dan Sinergi serta Giat Ekspor dan Investasi Pertanian menilai bahwa Ende memiliki komoditas kopi Wologai yang sudah terkenal di mancanegara, dan yang paling terkenal lagi adalah kopi dari Bajawa dan Manggarai di Pulau Flores.

"Bahkan, baru-baru ini kopi dari Kampung Adat Wologai, Kabupaten Ende diminati turis dari Inggris. Tak tanggung-tanggung, mereka meminta pengiriman untuk sampel di negaranya sebanyak sepuluh kilogram," katanya.

Hal itu, kata dia, membuktikan bahwa Kabupaten Ende bersiap agar bisa melakukan ekspor langsung komoditas yang ada ke sejumlah negara tujuan.

Meskipun sampai saat ini belum ada alat angkut dan pelabuhan yang ditetapkan sebagai tempat pengeluaran untuk ekspor, namun harus tetap optimistis untuk merealisasikan secepatnya.

Baca juga: UNDP kembangkan komoditas pertanian dan perkebunan di NTT

Oleh karena itu ia berharap Pemkab Ende bisa berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar kelak bisa membuat pelabuhan yang mampu menampung berbagai komoditas siap ekspor.

"Ende tak hanya dikenal sebagai bagian dari sejarah Indonesia, tempat lahirnya Pancasila yang dicetuskan oleh sang proklamator Bung Karno, tetapi juga kaya dengan hasil buminya. Area perkebunan yang masih luas dan bisa ditingkatkan tentunya bisa mendorong peningkatan produktivitas," ujarnya.

Ia mengatakan bahwa hingga November 2019 komoditas pertanian seperti kopi dan komoditas lainnya dari Ende yang diekspor sebanyak 94 ton dengan nilai Rp2,976 miliar.

"Hingga November lalu, komoditas pertanian dari Ende yang dikirim sebanyak 94 ton dengan nilai ekspor sekitar Rp2,976 miliar. Tentunya bila produktivitas dan kontinuitas bisa ditingkatkan maka bisa meningkatkan neraca perdagangan. Apalagi kopi Flores sudah dikirim ke Belanda, Amerika Serikat, Australia, Tiongkok, Taiwan dan Inggris melalui Surabaya," tutur Yulius.

Yulius berharap rapat koordinasi itu menjadi langkah awal untuk mewujudkan ekspor komoditas pertanian dari Ende. Infrastruktur dan persyaratan lainnya sudah siap tentunya sudah menjadi keniscayaan Ende dan daerah lainnya di Flores mampu ekspor secara langsung.

"Seluruh pemangku kepentingan harus bergerak bersama-sama sehingga bisa segera terealisasi. Tidak hanya kopi saja tetapi komoditas lainnya yang secara volume dan frekuensi relatif tinggi keluar dari Ende seperti kemiri, cengkeh, kopra, kakao dan pisang. Komoditas lainnya yang berpotensi ekspor perlu peningkatan produksi di antaranya porang dan jamur serta susu harimau," ucapnya.

Baca juga: AIP-Rural Nilai Babi Jadi Komoditas Unggulan
Baca juga: Penyuluh Fokus pada Komoditas Unggulan
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar