Mahasiswa gelar aksi damai untuk Adonara

id Adonara

Mahasiswa  gelar aksi damai untuk Adonara

Para mahasiswa dari Aliansi Mahasiswa Adonara (AMA) di Kupang, Sabtu (7/3/2020) menggelar aksi damai terkait dengan konflik berdarah di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur pada Kamis (5/3/2020) pagi. (ANTARA/Kornelis Kaha)

Para mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Adonara (AMA) asal Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur menggelar aksi damai untuk Nusa Tadon Adonara yang barusan bergolak akibat perang tanding.

Kupang (ANTARA) - Para mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Adonara (AMA) asal Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, menggelar aksi damai untuk Nusa Tadon Adonara yang barusan bergolak akibat "perang tanding" memperebutkan lahan yang mengakibatkan enam orang tewas terbunuh.

Koordinator aksi damai AMA, Alhuda Ladopura kepada wartawan di Kupang, Sabtu (7/3) menjelaskan aksi damai ini melibatkan delapan organisasi kepemudaan yang ada di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dia mengatakan, aksi damai yang dipimpinnya digelar untuk mendesak Pemerintah Kabupaten Flores Timur untuk meredakan situasi di masyarakat serta segera memfasilitasi penyelesaian konflik antarwarga dari dua suku itu.

"Kami tak ingin kelak muncul konflik baru lagi setelah yang terjadi di lahan perkebunan Wulen Wata antara suku Kwaelaga dan Lamatokan di Desa Sandosi, Kecamatan Witihama, Pulau Adonara, baru-baru ini," katanya.

Baca juga: Pemerintah dorong penyelesaian konflik Adonara melalui jalur budaya
Baca juga: Konflik di Adonara hanya bisa diselesaikan melalui pendekatan adat


Dalam aksi itu, para mahasiswa juga mengimbau masyarakat NTT, terutama dari Adonara yang ada di berbagai daerah untuk tidak menyebarluaskan lagi informasi berbau provokatif serta foto maupun video yang sadistis berkaitan kondisi para korban dalam konflik berdarah di Kamis (5/3) pagi itu.

Pihaknya juga meminta aparat keamanan untuk menindak tegas oknum-oknum yang sengaja memprovokasi keadaan dengan menyebarkan informasi bohong (hoaks) melalui media sosial, yang berpotensi memperuncing situasi dan mengganggu stabilitas keamanan di Pulau Adonara,

"Sebagai generasi dari Adonara tentu kami merasa berbelasungkawa yang mendalam atas kejadian itu dan kami berharap agar konflik tersebut segera diselesaikan hingga tuntas untuk mengakhiri dendam di antara para pihak yang merasa terluka akibat peristiwa tersebut," katanya menegaskan.

Pada Kamis (5/3) pagi telah terjadi konflik "perang tanding" antarwarga dari dua suku di antaranya Kwaelaga dan Lamatokan memperebutkan lahan di Desa Sandosi, Kecamatan Witihama, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang mengakibatkan enam orang tewas terbunuh.

Baca juga: Butuh tim khusus tangani konflik di Pulau Adonara
Baca juga: Apa kata Kopong Medan tentang "perang tanding" di Adonara

Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar