Logo Header Antaranews Kupang

BI Perkenalkan Pembayaran Elektronik

Kamis, 11 Mei 2017 05:38 WIB
Image Print
Anggota Komisi XI DPR RI Ferry Kase (Kanan) didampingi Kepala BI Perwakilan NTT Naek Tigor Sinaga memaparkan pentingnya sistem pembayaran elektronik kepada mahasiswa dan masyarakat umum di Kota Kupang. (Foto Antara/Kornelis Kaha)
Bank Indonesia (BI) Perwakilan Nusa Tenggara Timur perkenalkan pentingnya sistem pembayaran perbankan yang bersifat elektronik kepada puluhan mahasiswa serta masyarakat di kota Kupang.

Kupang (Antara NTT) - Bank Indonesia (BI) Perwakilan Nusa Tenggara Timur perkenalkan pentingnya sistem pembayaran perbankan yang bersifat elektronik kepada puluhan mahasiswa serta masyarakat di kota Kupang, Rabu.

"Saat ini sistem perbankan yang bersifat elektronik sudah ada di seluruh Indonesia, namun belum semua daerah khususnya di pedalaman belum mengetahui pentingnya sistem pembayaran elektronik ini," kata Kepala BI Perwakilan NTT Naek Tigor Sinaga saat memperkenalkan sistem tersebut melalui sosialisasi serta dialog interaktif dengan mahasiswa Kupang, Rabu.

Sosialisasi serta dialog interaktif yang diberi tema elektronifikasi sistem pembayaran untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, perluasan akses dengan memperhatikan perlindungan konsumen itu dihadiri oleh puluhan mahasiswa Universitas Nusa Cendana Kupang, serta sejumlah instansi dan organisasi kemasyarakatan di Kupang.

Naek Tigor mengatakan jika dibandingkan dengan negara-negara lain, pembayaran secara elektronik sudah sangat berkembang, tidak hanya di wilayah perkotaan namun juga di kawasan pelosok.

"Provinsi kita, khususnya Indonesia ini memang merupakan negara kepulauan, sehingga agak susah untuk diterapkan. Namun secara perlahan-lahan penggunaan dengan pembayaran elektronik kedepannya bisa digunakan oleh semua masyarakat," tuturnya.

Disamping masalah infrastruktur, hal lain menurutnya adalah mendidik sumber Daya Manusianya (SDM) agar mengerti menggunakan pembayaran elektronik.

Menurut dia, untuk wilayah NTT khususnya untuk kawasan pariwisata, sangat dibutuhkan pembayaran dengan cara elektronik. Karena dari kebanyakan wisatawan tentu lebih banyak hanya membawa kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM), karena lebih praktis.

"Kalau ada pernak-pernik atau kenangan-kenangan seperti tenun yang dapat dibeli dengan kartu gesek maka akan mempermudah mereka," katanya menambahkan.

Komisi XI Terus Bersuara

Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Ferry Kase menilai elektrifikasi sistem pembayaran dalam dunia perbankan di NTT masih terkendala minimnya infrastruktur.

"Saat ini pemerintah sedang berusaha agar semua pembayaran atau hal-hal yang berkaitan dengan mata uang dilakukan dengan cara elektronik, namun untuk wilayah NTT memang masih ada di wilayah perkotaan saja karena memang fasilitas ke pelosok masih sangat minim," katanya.

Menurut Ferry, berbagai infrastruktur yang harus mendukung agar sistem pembayaran elektronik bisa ada di seluruh NTT adalah pertama-tama mulai dari pembangunan jalan, kemudian jaringan listrik serta internet yang sering menjadi masalah di NTT.

"Di Jakarta saya selalu meminta agar segera selesaikan hal-hal yang berkaitan dengan elektronik dalam hubungannya dengan sistem pembayaran. Di negara-negara lain masalah ini sudah bisa diselesaikan namun di daerah kita khususnya Indonesia belum berjalan dengan baik," tuturnya.


Kebutuhan uang
Di bagian lain penjelasannya, Tigor mengatakan Bank Indonesia memperkirakan kebutuhan uang tunai jelang Hari Raya Idul Fitri di provinsi berbasis kepulauan itu naik sebesar 14.6 persen

"Kalau melihat pertumbuhan kebutuhan penggunaan uang tahun 2015 berjumlah 0,77 persen dan pada tahun 2016 naik menjadi 18,26 persen maka diperkirakan tahun ini mengalami kenaikan 14,6 persen," katanya.

Tigor mengatakan, perkiraan tersebut juga didukung oleh semakin banyaknya kas titipan BI di sejumlah wilayah di provinsi yang tengah gencar-gencarnya mempromosikan kawasan wisatanya tersebut.

Saat ini sudah ada enam kas titipan BI, belum lagi dalam waktu dekat akan ditambah dua kas titipan lagi yakni di pulau Sumba dan pulau Alor agar transaksi dan peredaran uang berjalan lancar.

"Tahun lalu hanya ada enam kas titipan, tetapi untuk tahun ini kita tambah dua lagi kas titipan. KIta berharap agar ini bisa membantu masyarakat di kedua pulau itu," tambahnya.

Ia juga mengatakan, terjadinya kenaikan sebesar 14,6 persen itu juga dikarenakan pada tahun 2016 lalu, tiga Kas Titipan pada tiga kota di NTT pada akhir tahun 2016 yakni Ende, Ruteng dan Lembata.

Lebih lanjut ia mengatakan sampai dengan awal Mei posisi stok keuangan BI NTT sendiri termasuk di enam kas titipan itu mencapai Rp2,43 triliun.

"Jumlah tersebut akan kita ambil secara bertahap, dan kita antispasi sekitar Rp400 miliar yang akan digunakan hingga akhir Mei 2017 ini," tambahnya.

Namun jumlah Rp400 miliar itu belum termasuk dengan untuk gaji pegawai maupun untuk tunjangan hari raya (THR) pada bulan Juni mendatang.

Oleh karena itu BI sendiri lanjutnya akan menyiapkan Rp1,1an triliun untuk membayar gaji pegawai dan THR pada Juni mendatang.

"Jadi kalau ditotal ada sekitar Rp1,5 triliun yang kita siapkan untuk digunakan masyarakat NTT," demikian Naek Tigor Sinaga.



Pewarta :
Editor: Kornelis Aloysius Ileama Kaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026