
Bulog Lakukan Gerakan Stabilisasi Pangan

"Gerakan Stabilisasi Pangan ini merupakan upaya Bulog melakukan stabilisasi harga melalui pasar murah dan operasi stabilisasi pangan dengan harga murah dan mudah dijangkau masyarakat kita," kata Dominggus Foes.
Kupang (Antara NTT) - Badan Urusan Logistik Divisi Regional Provinsi Nusa Tenggara Timur, Jumat, mulai melancarkan Gerakan Stabilisasi Pangan (GSP) yang dilakukan serentak di provinsi kepulauan itu.
"Gerakan Stabilisasi Pangan ini merupakan upaya Bulog melakukan stabilisasi harga melalui pasar murah dan operasi stabilisasi pangan dengan harga murah dan mudah dijangkau masyarakat kita," kata Kepala Bidang Pelayanan Bulog Divre NTT Dominggus Foes kepada wartawan di Kupang, Jumat.
Ia mengatakan, GSP yang dilakukan selama bulan Ramadhan hingga menyambut Hari Raya Idul Fitri 1438 H itu dilakukan serentak seluruh Indonesia yang diluncurkan di tingkat pusat pada 17 Mei 2017.
"Kita di daerah pun mulai mengikuti dengan melibatkan instansi terkait seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), TNI-Polri dan lainnya," katanya.
Dominggus menjelaskan, bahan-bahan kebutuhan pokok yang disediakan Bulog seperti beras dengan harga premium Rp9.000 dan gula pasir Rp12.500/kg.
Sementara itu, pasokan bawang saat ini masih dalam perjalanan didatangkan dari Surabaya, masing-masing akan dijual dengan harga bawang merah Rp25.000 dan bawang putih Rp38.000/kg.
GPS itu secara umum dilakukan di berbagai lokasi titik Pasar Pangan Rakyat seperti lingkungan Gudang Bulog, sekolah yang bekerja sama dengan PGRI, pesantren anggota YP31, kantor atau wilayah kelurahan hingga RT/RW.
Selain itu, pasar murah di 10 Rumah Pangan Kita, pasar tradisional yang bekerja sama dengan pengelola pasar, dan pasat murah keliling.
Dominggus memastikan, kebutuhan pangan yang disediakan Bulog tersebut mampu menjangkau 22 kabupten/kota di NTT melalui perwakilan 8 subdivre dan 2 kansilog.
Ia meyakini, GPS tersebut nantinya akan berdampak pada kestabilan harga ketika penyaluran bahan-bahan kebutuhan mulai merata ke seluruh NTT.
"Gerakan ini kita lakukan terus selama bulan Ramadhan hingga Idul Fitri bahkan nanti terus sampai akhir tahun," katanya.
Untuk itu, dia berharap masyarakat setempat dapat mengakses komoditi yang disediakan Bulog untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya dengan harga yang terjangkau.
"Stok yang tersedia saat ini sebanyak satu ton dan akan terus didatangkan dari Surabaya, jika permintaan bertambah," kata penanggung jawab stok buah kurma di Ramayana Flobamora Mall, Agus Ndapataka, di Kupang, Jumat.
Menurut Agus, buah kurma yang ada terdiri jenis kurma curah sebanyak 700 kilogram (kg) dan kurma dalam kardus untuk ukuran 500 gram dan 250 gram dengan persediaan hingga 400 kardus yang harganya bervariasi.
Ia menyebut untuk buah kurma curah harganya mulai dari Rp25 ribu hingga Rp100 ribu. Kurma dalam kemasan kardus dengan berat 250 gram harganya Rp29 ribu dan 500 gram mencapai Rp57 ribu.
"Menjelang buka puasa permintaan buah kurma berkisar 100 hingga 500 kg per hari dan sesuai pengalaman tahun-tahun sebelumnya permintaan per hari mencapai 500 hingga 750 kg, sehingga konsumen tidak perlu khawatir.
Secara terpisah, pemilik toko Hasan di Jln Ikan Paus, Kelurahan Solor, Kota Kupang, Achmad Djawas mengatakan, persediaan stok buah kurma aman untuk melayani konsumen yang membutuhkan, terutama umat muslim dan muslimat yang ada selama bulan Ramdahan.
Ia mengatakan buah kurma dengan label halal dalam berbagai jenis itu merupakan kurma impor dari Malaysia, Mesir, Arab Saudi dan Iran melalui Surabaya.
Djawas yang telah berjualan buah kurma dan perlengkapan alat untuk sholat puluhan tahun ini memberlakukan harga potongan untuk pembelian dalam jumlah mencapai 100 kg hingga 200 kg bagi setiap konsumen.
Ia mengatakan, buah kurma yang didatangkan ke Indonesia dalam kemasan-kemasan di bulan Ramadhan sudah berupa `manisan kurma, bukan lagi kurma segar.
"Manisan kurma ini justru ditambah kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya agar awet dalam perjalanan dan sangat jarang kita menemukan kurma impor yang masih asli dan belum berupa manisan. Kalaupun ada, sangat mungkin harganya menjadi sangat mahal.
Pewarta : Aloysius Lewokeda & Hironimus Bifel
Editor:
Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
