NTT Menuju Industri Sepak Bola

id Bola

Pemain Sepak Bola Timnas Indonesia U-23 asal Alor, NTT Yabes Roni Malaifani mengiring bola saat dilaksanakannya pertandingan persahabatan melawan Timnas Puerto Rico di Sleman, Jogjakarta. (Istimewa)

"Mulai diliriknya pemain-pemain sepak bola asal daerah ini menandai masuknya NTT dalam dunia industri persebakbolaan dan ini merupakan hal positif yang harus didukung," kata Farry Djemi Francis.
Kupang (Antara NTT) - Ketua Departemen Sport Intelligence Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) Pusat Farry Djemi Francis mengatakan saat ini Provinsi Nusa Tenggara Timur sedang menuju ke industri sepak bola.

"Mulai diliriknya pemain-pemain sepak bola asal daerah ini menandai masuknya NTT dalam dunia industri persebakbolaan dan ini merupakan hal positif yang harus didukung," katanya di Kupang, Senin.

Ia menilai selama ini sepak bola NTT terus berhadapan dengan persoalan-persoalan klasik yang membuat wajah sepak bola daerah ini lesu berkepanjangan.

Menurutnya belum adanya fasilitas olahraga sepak bola yang memadai seperti lapangan sepak bola, dan sarana latihan lainnya menjadi bagian dari rangkaian permasalahan yang dihadapi persepakbolaan di provinsi berbasis kepulauan itu.

Di samping itu juga belum adanya pembinaan sepak bola usia dini (SSB) yang berkelanjutan dan dikelola dengan baik serta tidak adanya kompetisi sepak bola rutin untuk menemukan dan menempa para pemain lokal adalah serangkaian problem klasik yang dihadapi di daerah itu juga.

Namun dalam beberapa tahun terakhir ini setelah adanya dua sekolah sepak bola (SSB) Bintang Timur di wilayah perbatasan serta SSB Bali United di Kupang yang dimotori David Fulbertus, pemain dan pencinta sepak bola NTT menimbulkan geliat sepak bola NTT yang cukup mengembirakan.

"Belum ditambah lagi dengan kemunculan pemain-pemain muda berbakat asal NTT yang saat ini tengah berada di klub-klub liga satu serta yang berada di Timnas Indonesia mulai dari U-16, U-19 hingga U-23," tuturnya.

Ia mengatakan dalam catatannya dalam beberapa tahun terakhir NTT menyumbang 8 pemain untuk ikut seleksi Timnas nasional. Seperti, timnas U-22, Yabes Roni Malaifani (Alor), Timnas U-19, Aldo Leki dan Fladiano Soares (SSB Bintang Timur Atambua), Gery Sae (Ngada), Abdul Hamid dan Endong Tirtayasa (Flotim), Muhamad Junedin (Kota Kupang).

Kemudian juga di Timnas U-15 ada Ruslan Bale Esa (Alor), U-16 Paulinus Gabriel Ati (SSB Bintang Timur Atambua).

Ada juga pemain NTT yang sekarang merumput di beberapa klub tanah air, seperti Di Bali United ada Yabes Roni Malaifani (Alor) dan trio Ngada: Alfonsius Kelvan, Jackson Tiwu, Yunias Bate. Kemudian juga di Bhayangkara FC ada Alsan Sanda (Kota Kupang), dan satu pelatih klub Pusamania FC, Ricky Nelson Ndun yang berasal dari kota Kupang.

"Masuknya sejumlah pemain NTT itu berkat blusukan pelatih Timnas U-19 Indra Sjafrin ke NTT bahkan sampai ke kabupaten Ngada, pulau Flores," tambah Fary yang juga pendiri SSB Bintang Timur tersebut.

Ketua Komisi V DPR RI ini juga menilai bahwa El Tari Memorial Cup (ETMC) 2017 yang digelar di Kabupaten Ende merupakan momen bangkitnya sepak bola di NTT.

"Saat El Tari Memorial Cup nanti, kita bisa melihat dan mencari bakat anak-anak muda NTT yang bertalenta dan momentum ini saya kira menjadi momentum kebangkitan sepak bola NTT," ujarnya.

Ia sendiri mengapresiasi pemerintah Kabupaten Ende yang berhasil membangun sebuah lapangan bertaraf internasional yang bisa digunakan untuk pertandingan pada malam hari.

Namun, ia mengharapkan agar dengan lapangan yang bagus itu, harus lebih banyak kegiatan pertandingan dan pembinaan sepak bola usia dini agar menghasilkan bakat-bakat yang baru.

"Kami PSSI sendiri berharap agar tiga sampai lima tahun kedepan banyak potensi atau bakat-bakat sepak bola dari NTT yang dapat muncul di nasional mengikuti para pemain Timnas Indonesia yang berasal dari NTT," tuturnya. 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar