Rabu, 18 Oktober 2017

BMKG : Waspadai Dinamika Iklim

id Apolonarius Geru
BMKG : Waspadai Dinamika Iklim
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kupang Apolinaris Geru. (Foto: Muhammad Indra Bendi)
Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta untuk waspada dalam menyikapi dinamika iklim, terutama memasuki puncak musim kemarau.
Kupang (Antara NTT) - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kupang, Apolinaris Geru mengimbau masyarakat  Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk waspada dalam menyikapi dinamika iklim, terutama memasuki puncak musim kemarau.

"Di wilayah NTT sering terjadi tiga bencana hidrometrologi yakni kekeringan, banjir dan angin puting beliung, terutama memasuki puncak musim kemarau dan kemudian sebentar lagi kita akan memasuki masa tranmsisi dari musim kemarau ke musim hujan," kata Apolinaris Geru kepada wartawan di Kupang, Selasa (19/9).

Dia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan perkembangan iklim di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini, dan kemungkinan terjadinya El Nino maupun La Nina di wilayah itu.

Menurut dia, pada masa transisi dari musim kemarau ke musim hujan, banyak terjadi pergolakan iklim atau cuaca yang menyebabkan iklim ekstrim sehingga masyarakat juga perlu waspada.

BMKG kata dia memprediksi, untuk saat ini, pengaruh iklim global di wilayah Nusa Tenggara Timur masih dalam kisaran normal.

Artinya, belum ada pengaruh dari El Nino ataupun La Nina yang begitu signifikan di wilayah berbasis kepulauan itu, katanya.

Mengenai prediksi musim hujan, dia mengatakan untuk awal musim hujan 2017/2018 disebagian besar wilayah NTT diperkirakan berlangsung pada akhir November atau pertenghan Desember.

"Jadi kami prediksi untuk awal musim hujan 2017/2018 disebagian besar wilayah NTT diperkirakan berlangsung pada akhir November atau pertenghan Desember," katanya menjelaskan.

Namun, untuk daerah-daerah tertentu atau daerah yang berelevasi tinggi seperti wilayah Kabupaten Manggarai bagian tengah di Pulau Flores, musim hujan diperkirakan akan berlangsung pada awal Oktober 2017, katanya menambahkan.

Hujan tipuan
Apolinaris Geru mengatakan para petani di wilayah ini sering terjebak hujan tipuan (false rain atau tricky rain), sebagai salah satu bentuk gangguan iklim yang membuat petani di NTT sering tertipu. 

Hujan tipuan atau false rain/tricky rain adalah hujan yang terjadi pada saat awal masuk musim hujan tapi secara kategori klimatologis akumulasi hujan selama satu dasarian (10 hari) belum mencapai 50 milimeter atau lebih. 

Setelah terjadi hujan 3-4 hari petani mengambil keputusan untuk menanam karena dirasakan musim hujan telah tiba. Namun setelah itu tidak terjadi hujan lagi selama dua minggu sampai tiga minggu (long dry spell). 

"Akibatnya petani mengalami gagal tanam karena tanaman menjadi layu dan merana bahkan mati kekeringan karena tidak ada air (hujan)," katanya menjelaskan.

Salah satu bentuk gangguan iklim adalah hujan tipuan, membuat petani sering tertipu. Hujan dua atau tiga hari cukup tinggi, petani colok tanah sudah basa langsung tanam, setelah itu tidak ada hujan lagi, katanya.

Bentuk gangguan iklim lain adalah periode kering selama musim hujan (long dry spell). "Ada juga periode hari kering yang panjang selama musim hujan. Artinya dalam kurun waktu periode musim hujan itu terjadi hari kering atau hari tidak ada hujan," katanya menambahkan.

Menurut dia, banyak petani tidak memahami kondisi iklin ini dengan baik, sehingga menyebabkan sering terjadinya gagal tanam.

"Tipikal iklim NTT di daerah kepulauan ini, pada saat musim hujan sering terjadi periode kering. Periode kering pada musim hujan inilah yang menyebabkan gangguan pada tanaman," katanya.

Tanaman mati, layu dan lainnya akhirnya gagal panen dan gagal tanam, karena setelah ditanam satu atau dua minggu tidak lagi hujan karena memang belum musim, katanya.

Karena itu, dia menghimbau kepada para petani khusus untuk daerah-daerah seperti Kupang dan pulau Timor serta sebagian Pulau Flores agar pada bulan Oktober misalnya ada hujan sebaiknya bersabar dulu atau jangan dulu menanam. 

Hujan, kata dia, biasanya mulai normal dan sudah jauh lebih merata baru terjadi pada akhir November sampai awal dan pertengahan Desember.

"Tetapi kalau ada hujan pada September, Oktober, hendaknya hujan tersebut membuat petani agar lebih fokus dalam pengolahan tanah," katanya. 

Editor: Kornelis Aloysius Ileama Kaha

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga