Hujan Akibat Osilasi Madden Julian

id rafael leta

Hujan Akibat Osilasi Madden Julian

Pengamat pertanian Leta Rafael Levis (Foto Ist)

"Osilasi Madden Julian itu merupakan gelombang yang terjadi pada lapisan atmosfer di kawasan tropis dengan durasi 30-90 hari dan akan bergerak ke arah Timur dengan kecepatan rata-rata lima meter per detik," kata Leta Rafael Levis.
Kupang (Antara NTT) - Pengamat Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Dr Ir Leta Rafael Levis mengatakan hujan yang mengguyur Kota Kupang pada Senin siang merupakan dampak dari penguapan dan Osilasi Madden Julian.

"Osilasi Madden Julian itu merupakan gelombang yang terjadi pada lapisan atmosfer di kawasan tropis dengan durasi 30-90 hari dan akan bergerak ke arah timur dengan kecepatan rata-rata lima meter per detik," katanya di Kupang, Senin, (25/9) terkait hujan lokal yang terjadi dalam Kota Kupang dan sekitarnya.

Ia mengatakan Osilasi Madden Julian (OMJ) ini biasanya ditandai adanya awan-awan berskala super yang bergerak ke arah timur dari Samudera Hindia. Daratan pertama yang disentuh oleh osilasi di Indonesia adalah Sumatera lalu menuju kawasan timur termasuk NTT.

"Buktinya pada Minggu petang kemarin, di Pulau Lembata di ujung timur Pulau Flores itu juga terjadi hujan ringan karena dataran tersebut juga mengalami dampak OMJ," katanya.

Dosen pada Fakultas Pertanian Undana Kupang itu menjelaskan, awal terbentuknya fenomena ini berasal dari Samudera bagian barat (Afrika) dan akan menghilang di sekitar kawasan tersebut setelah mengelilingi dunia di equator.

Ketua Penyuluh Pertanian NTT itu mengatakan, fenomena ini sudah sejak 14 September 2017. Saat itu Indonesia dilalui oleh fenomena ini yang berupa pergerakan awan berskala besar dari Samudera Hindia.

Namun dari 18 September fenomena OMJ ini sudah melemah dengan indek kurang dari satu sehingga tekanan rendah masih terjadi di Indonesia terutama di sekitar Sumatera dan Samudera Hindia.

Ia mengatakan, dengan adanya tekanan rendah terbentuk di Sumatera dan lautan sekitarnya, maka awan-awan hujan banyak terbentuk. Kondisi ini berpotensi terjadi hujan-hujan lebat di kawasan tersebut.

Menurut dia, saat ini posisi Osilasi ini masih di atas Indonesia, yakni berada pada fase ke-4 dengan intensitas lemah, namun kondisi hujan seperti sekarang bisa saja berlangsung hingga 28 September 2017.

BMKG setempat sebelumnya memprediksi hujan dan mendung akan terjadi di beberapa daerah di NTT, meskipun tidak mengindikasikan NTT telah memasuki musim hujan. 

"Ini hanya karena suhu muka laut (SST) yang tinggi (kisaran 29-30 derajat celcius yang berarti ada potensi penguapan (penambahan masa uap air) di Laut Timor, Laut Flores, Laut Sawu," kata Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang Bambang Setiatji di Kupang. 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar