Pengguna QRIS di Manggarai Barat capai 1.889 UMKM

id Aplikasi, QRIS, NTT, Kota Kupang

Pengguna QRIS di Manggarai Barat capai 1.889 UMKM

Seorang pedagang sayur menunjukkan barcode aplikasi QRIS yang sudah dimilikinya di pasar Oebobo, Kota Kupang, NTT, Kamis (24/9/2020). ANTARA/Kornelis Kaha

Dalam situasi pandemi seperti saat ini kebutuhan untuk digitalisasi semakin meningkat dan mau tidak mau, harus terbiasa menggunakan teknologi
Kupang (ANTARA) - Kantor Perwakilan BI Wilayah NTT mencatat hingga saat ini terdapat 1.889 pedagang atau UMKM di Kabupaten Manggarai Barat , Nusa Tenggara Timur, terdaftar sebagai pengguna barcode Quick Response Indonesia Standard (QRIS).

"Dari 32.443 pedagang di NTT yang menggunakan QRIS, 1.889 tersebar di Manggarai Barat yang merupakan kawasan wisata," kata Kepala BI wilayah NTT Nyoman Ariawan Atmaja pada seminar edukasi QRIS bagi pedagang di Labuan Bajo, Manggarai Barat, secara daring dalam rangka mendukung program "Menuju 12 Juta QRIS di Indonesia", di Kupang, Kamis (25/2).

Menurut Nyoman, potensi peningkatan jumlah pedagang yang menggunakan QRIS masih cukup besar jika dilihat dari total jumlah pedagang pasar dan UMKM di Provinsi NTT.

"Hal ini terbukti karena jika dibandingkan dengan awal bulan lalu, jumlah pedagang yang menggunakan QRIS hanya mencapai 1.746 pedagang. Artinya, dalam beberapa hari saja terjadi peningkatan walaupun hanya sekitar 1 persenan," tambah dia.

Lebih lanjut, kata dia, untuk sebaran pedagang di NTT yang sudah menggunakan QRIS tersebar di Kota Kupang dengan jumlah pengguna QRIS mencapai 10.742 pedagang, Rote 528, Timor Tengah Selatan (TTS) 993, Malaka 299, Timor Tengah Utara (TTU) 801 pedagang, Sabu Raijua 118 pedagang.

Kemudian, juga di Kabupaten Sumba Timur 870 pedagang, Sumba Tengah 100, Sumba Barat 278, Sumba Barat Daya (SBD) 417, Manggarai Timur 320, Manggarai 1.246, Ngada 618, Nagakeo 511, Ende 5.169, Sikka 2.713, dan Kabupaten Flores Timur 1.698 pedagang.

Nyoman menjelaskan sampai saat ini sudah terdapat 48 penyelenggara berizin QRIS dari Bank Indonesia.

Hingga 19 Februari 2021, merchant yang sudah terdaftar dan memasang QRIS mencapai 6,3 juta unit di seluruh Indonesia.

Baca juga: BI targetkan 80 ribu pedagang gunakan QRIS pada 2021

Lebih lanjut, kata dia, dalam situasi pandemi seperti saat ini kebutuhan untuk digitalisasi semakin meningkat dan mau tidak mau, harus terbiasa menggunakan teknologi termasuk dalam hal bertransaksi.

Baca juga: BI tegaskan Bitcoin bukan alat pembayaran sah di RI

Adanya potensi penyebaran virus melalui uang tunai menyebabkan semakin banyak yang meninggalkan uang tunai sebagai alat pembayaran dan memilih bertransaksi secara nontunai. Hal ini mendorong peningkatan transaksi non tunai beberapa bulan terakhir.
Pewarta :
Editor: Bernadus Tokan
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar