Tarif Penyeberangan di NTT naik 15 Persen

Pewarta : id Tarif

Moda transportasi laut yang menghubungkan antarpulau di Nusa Tenggara Timur

Kupang (Antara NTT) - Tarif angkutan penyeberangan di Nusa Tenggara Timur akan mengalami kenaikan sekitar 15 persen, namun pemberlakuan kenaikan itu masih menunggu operator melakukan pembenahan di berbagai bidang.

"PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) memang memiliki rencana untuk mengajukan kenaikan tarif penyeberangan, tetapi belum diberlakukan karena masih ada pembenahan," kata Kepala Bidang Kepelabuhan Dinas Perhubungan NTT Mahadin Sibarani di Kupang, Rabu.

Menurut dia, operator harus melakukan pembenahan dari sisi manajemen pengelolaan terutama untuk pelayanan kepada para penumpang di atas kapal dan terminal kedatangan.

Selain itu, melakukan perbaikan terhadap fasilitas di atas kapal seperti tempat tidur, hiburan, restoran dan fasilitas lain yang dapat memberikan kenyamanan bagi para pengguna jasa penyeberangan, katanya.

"Paling tidak para penumpang bisa tidur tanpa harus mengeluarkan biaya untuk membeli kasur, mau makan ada restoran yang tersedia dan ada hiburan selama pelayaran," kata Mahadin.

Mengenai besaran kenaikan, dia mengatakan, rute komersial akan dilakukan perubahan tarif yakni maksimal 15 persen.

"Kalau secara nasional, penyesuaian tarif penyeberangan sebesar 18 persen tapi untuk NTT maksimal 15 persen sesuai dengan kemampuan daerah," katanya.

Dia berharap, kenaikan tarif angkutan penyeberangan nanti dapat diikuti dengan perbaikan pelayanan sehingga para pengguna jasa angkutan merasa lebih nyaman dalam pelayaran.

Apalagi, penyeberangan antarpulau di provinsi berbasis kepulauan itu, umumnya memakan waktu lebih dari sepuluh jam pelayaran, katanya. 

Jalur perintis
Sibarani mengatakan saat ini pemerintah terus berupaya membuka akses ke pulau-pulau atau daerah terpencil untuk membuka jalur penyeberangan perintis di Nusa Tenggara Timur sebagai jembatan penghubung antarpulau di wilayah provinsi kepulauan ini.

"NTT ini terdiri dari ribuan pulau. Pemerintah tidak mungkin bisa membangun jalan atau jembatan untuk menghubungkan pulau-pulau, tetapi hanya bisa dengan membuka rute penyeberangan perintis," katanya menambahkan.

Ia mengatakan selama ini masyarakat lebih memilih menggunakan kapal motor sebagai alat transportasi untuk bepergian ke kota serta mengangkut hasil pertanian ke pasar-pasar di perkotaan.

Menurut dia, hingga 2017 pemerintah telah membuka 16 rute penyeberangan perintis yang dilayani oleh kapal-kapal milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP).

"Memang bertahap, tetapi sampai 2017 sudah ada 16 lintasan penyeberangan perintis yang dilayani kapal ASDP. Masyarakat sudah mulai membawa hasil mereka untuk dijual di perkotaan," katanya.

Ke-16 lintasan penyeberangan perintis itu adalah Kupang-Naikliu di Kabupaten Kupang, lintasan Pulau Rote-Ndao, lintasan penyeberangan Sabu- Raijua, Raijua-Ende, Flores.

Lintasan penyeberangan Ende-Waingapu, Aimere-Waingapu, Sabu - Waingapu, Kalabahi-Baranusa, Baranusa-Adonara, Adonara-Lewoleba, Lewoleba - Solor, Solor - Larantuka, Kewapante - Adonara, Kewapante - Palue, Kewapante-Pemana, Pemana-Pulau Besar di Maumere.

"Memang tidak setiap hari dilayani kapal ASDP, tetapi paling tidak telah memberikan dampak positif bagi daerah karena masyarakat sudah bisa membawa hasil untuk dijual di luar," katanya.

Pisang, ubi-ubian, buah-buah serta ikan kering dari Pulau Pemana misalnya sudah bisa dijumpai di pasar-pasar di dalam Kota Kupang karena diangkut oleh kapal-kapal ASDP ini, katanya. 
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar