Dua titik panas muncul di Haharu Sumba Timur

id NTT,Pulau Sumba,Sumba Timur,BMKG,Stasiun Meteorologi El Tari,titik panas,Kecamatan Haharu

Dua titik panas muncul di Haharu Sumba Timur

Gambar kemunculan titik panas (tanda titik berwarna merah) yang terdeteksi di Pulau Sumba, NTT. (ANTARA/Aloysius Lewokeda)

...Kemunculan titik panas ini terdeteksi pada 25-26 Juli dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen
Kupang (ANTARA) - Stasiun Meteorologi El Tari Kupang Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendeteksi dua titik panas muncul di Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.

"Kemunculan titik panas ini terdeteksi pada 25-26 Juli dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen," kata Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang BMKG Agung Sudiono Abadi di Kupang, Senin, (26/7).

Sebelumnya pada 10-11 Juli titik panas juga terdeteksi muncul di Kecamatan Haharu, Sumba Timur sebanyak satu titik dan pada 18-19 Juli sebanyak satu titik.

Ia mengatakan titik panas diketahui berdasarkan analisis peta sebaran titik panas dengan pantauan Satelit Terra, Aqua, Suomi NPP dan NOAA20 oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Dijelaskan satelit akan mendeteksi anomali suhu panas dalam luasan 1 km persegi. Pada suatu lokasi di permukaan bumi akan diobservasi 2-4 kali per hari.

Pada wilayah yang tertutup awan, maka titik panas tidak dapat terdeteksi. Kekeringan dan hembusan angin yang kencang juga menjadi penyebab tidak langsung dalam sebaran suatu titik panas tersebut.

"Citra satelit tersebut hanya menilai anomali reflekstifitas dan suhu sekitar yang diinterpretasikan sebagai titik panas. Penyebab adanya anomali tersebut tidak dapat kami pastikan," katanya.

Ia melanjutkan, titik panas tersebut bukan berarti jumlah sebenarnya titik api atau kebakaran dan bukan merupakan titik api pada suatu wilayah.

Baca juga: BMKG imbau nelayan waspadai gelombang 4 meter di Laut Sawu
Baca juga: Waspadai peningkatan suhu di Kalbar dan NTT


Informasi sebaran titik panas merupakan indikator awal kebakaran lahan serta dapat dimanfaatkan dalam deteksi area terbakar, kata Agung Sudiono Abadi.
Pewarta :
Editor: Bernadus Tokan
COPYRIGHT © ANTARA 2021