Lipsus - Bencana hanya menyisahkan air mata

id Bencana

Bencana tanah longsor

Apa pun teorinya, bencana alam hanya menyisahkan gelimangan air mata dan membawa sebuah perpisahan yang dalam di antara sesama manusia.
Kupang (AntaraNews NTT) - Bencana adalah suatu peristiwa alam yang membawa dampak besar terhadap populasi manusia, entah itu bencana banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami maupun letusan gunung api.

Sejak masa lalu, manusia telah menghadapi bencana alam yang berulang kali melenyapkan populasi mereka. Dan, mereka pun yakin bahwa bencana alam adalah hukuman dan simbol kemarahan para dewa.

Semua peradaban kuno menghubungkan lingkungan tempat tinggal mereka dengan dewa atau Tuhan yang dianggap manusia dapat memberikan kemakmuran maupun kehancuran.

Pada abad ke-21, bencana alam yang semakin banyak terjadi adalah meningkatnya suhu bumi (pemanasan global) yang diikuti dengan banjir, kekeringan, cuaca ekstrem dan musim yang tak bisa diramal.

Perubahan iklim berpotensi meningkatkan kemiskinan dan kerentanan dalam jumlah besar. Pada saat yang sama bencana iklim semakin meningkat, lebih banyak manusia yang terkena dampaknya karena kemiskinan, kurangnya sumber daya, pertumbuhan populasi, pergerakan dan penempatan manusia ke daerah yang tidak menguntungkan.

Sementara bencana alam geologi hanya terjadi di permukaan bumi, seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor dan gunung meletus.

Umumnya gempa bumi dan gunung meletus hanya terjadi sepanjang jalur-jalur pertemuan lempeng tektonik di darat atau lantai samudera yang kemudian memicu terjadinya gelombang tsunami ke pesisir-pesisir yang jauh.

Apa pun teorinya, bencana alam hanya menyisahkan gelimangan air mata dan membawa sebuah perpisahan yang dalam di antara sesama manusia.

Mengapa? Karena dampaknya membawa kehancuran di bidang ekonomi, sosial dan lingkungan. Kerusakan infrastruktur dapat mengganggu aktivitas sosial, dampak dalam bidang sosial mencakup kematian, luka-luka, sakit, hilangnya tempat tinggal dan kekacauan komunitas.

Kerusakan lingkungan dapat mencakup hancurnya hutan yang melindungi daratan. Bencana seperti tanah longsor pun dapat memakan korban yang signifikan pada komunitas manusia karena mencakup suatu wilayah tanpa ada peringatan terlebih dahulu.

Kondisi inilah yang tampaknya sedang melanda Indonesia saat ini. Di Nusa Tenggara Timur, misalnya, tercatat 10 orang meninggal dunia sepanjang Januari 2018 akibat bencana alam.

"Ada yang meninggal karena tertimbun longsor dan terbawa banjir, dan ada pula yang meninggal karena tertimpa pohon tumbang, dan lain-lain," ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT Tini Thadeus.

Menurut catatan BPBD NTT bencana alam yang terjadi di wilayah provinsi berbasis kepulauan itu berlangsung di 10 kabupaten, 49 kecamatan dan 63 desa atau kelurahan.

Selain korban jiwa, ada pula korban mengungsi yang tercatat sebanyak 101 orang yang menyebar di dua kabupaten, yakni Timor Tengah Selatan dan Sumba Timur.

Sejak Oktober 2017, BPBD Nusa Tenggara Timur telah mendistribusikan semua bantuan kemanusiaan kepada daerah-daerah di NTT, sehingga tidak menjadi ganjalan bagi mereka yang sedang dilanda bencana.

Bantuan logistik yang didistribusikan itu antara lain beras, makanan ringan dan siap saji, minuman, tenda darurat, karpet, selimut dan lainnya.

Bencana alam memang hanya meninggalkan kesedihan dan air mata. Dermaga Namo di Pulau Raijua yang merupakan satu-satunya pelabuhan feri di Kabupaten Sabu Raijua, ikut ambruk karena tak sanggup menahan amukan gelombang samudera yang dahsyat.

"Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (30/1) malam, saat hujan deras disertai angin kencang melanda wilayah itu," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sabu Raijua Pither Mara Rohi.

Pulau Raijua adalah bagian dari Kabupaten Sabu Raijua yang bisa ditempuh dengan kapal motor ukuran kecil sekitar 2-2,5 jam dari Seba, Ibu Kota Kabupaten Sabu Raijua, atau sekitar 115 mil dari Kupang.

Dermaga feri yang dibangun sekitar tahun 1980-an itu merupakan satu-satunya dermaga yang selama ini dijadikan sebagai tempat berlabuhnya kapal feri.

"Kami hanya bisa berpasrah. Jika kelak keadaan laut sudah normal kembali, apakah kapal feri masih bisa berlabuh di Namo atau tidak," kata Mara Rohi dalam nada lirih.

Nusa Tenggara Timur tidak hanya dilanda bencana tanah longsor dan banjir, tetapi juga angin puting beliung yang datang jauh lebih dahsyat memorak-porandakan pemukiman penduduk.

BPBD NTT mencatat sekitar 106 unit rumah mengalami kerusakan akibat diterjang angin puting beliung yang terjadi di wilayah Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Kupang, Kabupaten Sumba Timur dan Kota Kupang.

Cuaca ekstrem berupa angin kencang yang terjadi di awal 2018 ini melanda secara merata hampir semua wilayah di provinsi yang memiliki 22 kabupaten/kota itu.

"Kami harus bekerja 1x24 jam dalam menghadapi situasi buruk tersebut dengan terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah untuk mendata kerusakan dan melakukan penanganan melalui tim terpadu," kata Thadeus.

Lalu bagaimana dengan nasib para petani di daerah berbasis kepulauan itu? Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, karena tanaman mereka yang baru tumbuh dan merekah, kini sudah diterjang banjir.

"Laporan sementara baru dilakukan melalui telepon. Data resminya belum kami terima dari daerah-daerah. Kami berharap agar segera disampaikan data resminya," komentar Kepala Dinas Pertanian NTT Yohanis Tay Ruba.

Bencana alam yang menimpa berbagai belahan di Nusantara saat ini, apakah merupakan simbol hukuman dan kemarahan dari para dewa terhadap umat manusia di muka bumi ini?

Entah apa penjelasan dan teorinya. Bencana alam hanya menyisahkan sebuah tragedi kemanusiaan yang dalam karena telah merenggut sebagian nyawa orang-orang yang disayangi, serta menghancurkan pula infrastruktur sebagai landasan manusia dalam membangun tatanan ekonominya.
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar