Belasan ton bawang merah tujuan Papua menumpuk di Semau

id Semau, NTT< Bawang merah, NYTT,NTT

Belasan ton bawang merah tujuan Papua menumpuk di Semau

Balasan karung bawang merah ditumpuk di budang salah seorang pedagang bawang merah di Semau. ANTARA/HO

Kapal Sirimau (milik PT.Pelni) yang biasa kami numpang. Tapi sejak Juli itu tidak ada lagi. Jadi sekarang bawang semua menumpuk
Kupang (ANTARA) - Sebanyak 12 ton bawang merah milik para petani di pulau Semau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) kini tak bisa dipasarkan lagi Ke Papua setelah kapal Pelni KM Sirimau rute Kupang-Papua dihentikan pelayarannya.

"Di gudang saya ada 12 ton yang bingung harus dijual kemana sekarang, karena selama ini proses jualnya dikirim ke Papua, karena ada pembeli di sana," kata pedagang bawang merah Semau Petrus Tausbele kepada ANTARA saat dihubungi dari Kupang, Kamis, (16/9).

Ia mengatakan saat ini para petani bawang merah di pulau itu juga menjerit karena bawang merah mereka juga menumpuk karena jalur pemasaran ke Papua tidak bisa diakses.

Petrus mengaku bahwa dirinya secara rutin membawa hasil pertanian tersebut ke Papua. Namun saat ini terpaksa terhenti.

"Kapal Sirimau (milik PT.Pelni) yang biasa kami numpang. Tapi sejak Juli itu tidak ada lagi. Jadi sekarang bawang semua menumpuk," jelas Petrus.

Dikatakan, setiap bulan dia membawa 60-80 ton bawang merah untuk dipasarkan di Papua. Alasannya, harga jual di Papua menguntungkan.

Saat ini dia terancam merugi karena bawang yang sudah dibeli untuk dijual ke Papua, masih tertahan. Sementara harga jual di Kupang rendah, bahkan cendrung turun.

"Awalnya kita beli dengan Rp13 ribu di petani. Tapi sekarang harga sudah turun lagi. Masih belasan ton yang menumpuk," tutur dia.

Ia berharap agar pemerintah bisa mencari solusi agar di masa pandemi COVID-19 seperti saat ini usaha yang dijalannya tetap berjalan mengingat dirinya bingung harus kemana lagi menjual belasan ton bawang itu.

Petrus juga mengaku tak bisa membeli lagi dari petani, karena tak ingin semakin banyak bawang menumpuk di gudangnya.

Sementara itu Kepala Cabang Pelni Kupang Safran dihubungi terpisah mengatakan bahwa saat ini KM SIrimau memang tidak beroperasi karena digunakan untuk melayani isolasi terpusat masyarakat Kota Sorong.

Baca juga: PT Pelni operasikan penuh kapal penumpang mulai November

"Tidak ada kapal pengganti Sirimau saat ini," katanya.

Bahkan ujar dia sampai dengan saat ini pihaknya belum mendapatkan informasi kepastian KM Sirimau kembali beroperasi.

Baca juga: KM Umsini batal singgah di sejumlah pelabuhan di NTT

"Kalau nanti sudah ada info kepastiannya segera kami info ke masyarakat," ujar dia.
Pewarta :
Editor: Bernadus Tokan
COPYRIGHT © ANTARA 2021