Cawapres Jokowi sebaiknya berlatar belakang hukum

id Jokowi

Presiden Joko Widodo membasuh kakinya dengan air laut di pantai Nemberala, Pulau Rote, NTT, Selasa, (9/1). (Foto Antara/Laurensius Molan).

Sebaiknya Joko Widodo mengambil pendamping berlatar belakang orang hukum karena tantangan ke depan yang dihadapi bangsa ini bukan pada ekonomi, tetapi penegakan hukum.
Kupang (AntaraNews NTT) - Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kupang Dr Ahmad Atang mengatakan sebaiknya Joko Widodo mengambil pendamping berlatar belakang orang hukum karena tantangan ke depan yang dihadapi bangsa ini bukan pada ekonomi, tetapi penegakan hukum.

"Menurut hemat saya, pendamping Jokowi mestinya berlatar belakang orang hukum karena tantangan ke depan bukan ekonomi tapi penegakan hukum," kata Ahmad Atang kepada Antara di Kupang, Kamis (17/5).

Menurut dia, ke depan akan terjadi banyak benturan kepentingan yang bersentuhan dengan relasi antara rakyat dan negara. Gerakan masyarakat akan menguat dengan kebebasan sipil karena liberisasi demokrasi, dan adanya petarungan antara politik aliran versus nasionalis, katanya.

Bahkan, kata dia, gerakan radikalisme akan berubah wajah sebagai gerakan politik. Dalam kondisi seperti ini, Jokowi membutuhkan sokongan dari aspek hukum dalam pengambilan keputusan, katanya.

Baca juga: Gubernur: Jokowi bangun infrastruktur bukan untuk pencitraan

Mengenai peluang tokoh Kristen, dia mengatakan Jokowi tidak melakukan itu karena resiko terlalu besar. "Di tengah mindset publik yang masih berbasis pluralisme seperti ini maka cara pandang multikulturalistik seperti yang dilakukan Jokowi selama di Solo dan DKI dalam pilpres mendatang riskan bagi Jokowi," katanya.

Menurut dia, saat ini Jokowi sedang berupaya berdamai dengan kelompok sektarianisme, maka tentunya politik pluralisme yang digunakan untuk menjinakan komumitas ini. "Jadi bagi saya, Pilpres 2019 bukan hanya soal siapa menang dan siapa kalah, tapi ini pertarungan ideologi," katanya.

Karena itu, maka Jokowi harus menang agar ideologi aliran tidak semena-mena di negeri ini, karena hanya dengan politik, mereka bisa dikalahkan, kata mantan Pembantu Rektor I UMK itu.
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar