REI: Waspadai devoloper bodong

id REI

Ketua DPD REI NTT Bobby Pitoby memberikan kata sambutan saat membuka Bank NTT REI Expo di Kupang, Jumat (8/6). (Foto Antara/Kornelis Kaha)

"Sudah banyak kasus yang saya tangani. Oleh karena itu kami dari REI NTT mengharapkan agar masyarakat NTT berhati-hati dengan devoloper bodong," kata Bobby Pitoby.
Kupang (AntaraNews NTT) - DPD Real Estate Indonesia (REI) Nusa Tenggara Timur mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dengan devoloper perumahan bodong yang tengah berkeliaran di provinsi berbasis kepulauan itu.

"Sudah banyak kasus yang saya tangani. Oleh karena itu kami dari REI NTT mengharapkan agar masyarakat NTT berhati-hati dengan devoloper bodong," kata Ketua DPD REI NTT Bobby Pitoby kepada wartawan di Kupang, Sabtu (9/6).

Hal ini disampaikannya karena dalam beberapa tahun terakhir selama masa kepemimpinannya sudah banyak keluhan dari masyarakat terkait banyaknya penipuan penjualan rumah murah di NTT khususnya di Kota Kupang.

Ia mengatakan selama tahun 2017 hingga saat ini kurang lebih sudah ada 28 kasus penipuan pembelian rumah murah di daratan pulau Timor.

"Biasanya para developer bodong menawarkan rumah dengan terlebih dahulu meminta pembeli untuk memberikan uang senilai Rp15 juta dengan alasan uang muka. Namun setelah itu developernya melarikan diri," tuturnya.

Baca juga: 3.000 Unit Rumah Ditargetkan Dibangun Pada 2018

Salah satu contoh kasus yakni kasus penipuan pembelian rumah murah yang menimpa seorang wartawan di Kota Kupang. Kemudian juga penipuan pembelian rumah murah di Desa Belo, Kabupaten Kupang.

Korban mengaku sudah memberikan uang senilai Rp15 juta agar bisa mendapatkan rumah. Namun sampai dengan detik ini rumah tersebut tidak ada," katanya.

Bahkan menurut penuturan korban, kantor yang menjadi lokasi transaksi korban dengan pihak developer bodong sudah ditutup.

Oleh karena itu Bobby mengatakan bahwa per 1 Januari 2018 pemerintah sudah mengeluarkan peraturan bahwa developer yang layak membangun rumah dan menjualnya adalah mereka yang sudah terdaftar beberapa organisasi developer.

Seperti REI sendiri, Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) serta Asosiasi Pengembang Rumah Sederhana Sehat Nasional (Apernas). Sementara itu Apersi sendiri dibagi menjadi tiga organisasi lagi.

"Jadi kalau developernya tidak terdaftar di organisasi seperti REI maka tidak boleh angkat kredit perumahan subsidi," tegasnya.

Oleh karena itu, masyarakat yang ingin membeli rumah atau mengkredit rumah maka harus teliti dan menanyakan developer tersebut tergabung dalam organisasi perumahan mana, serta menunjukkan legalitasnya sehingga kelak tidak menjadi korban seperti yang terjadi atau dialami oleh masyarakat lainnya.

Baca juga: 196 rumah terjual dalam REI NTT Expo
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar