Prisma tingkatkan pendapatan keluarga miskin Rp797,7 miliar

id Prisma

Capaian Prisma di Nusa Tenggara Timur dalam meningkatkan pendapatan para petani miskin di wilayah provinsi kepulauan ini.

Prisma, sebuah program yang dilaksanakan atas kerja sama Australia-Indonesia, telah meningkatkan pendapatan 130.787 rumah tangga petani miskin di NTT sebesar Rp797,7 miliar.
Kupang (AntaraNews NTT) - Promoting Rural Income Through Support for Markets in Agriculture (Prisma), sebuah program yang dilaksanakan atas kerja sama Australia-Indonesia, telah meningkatkan pendapatan 130.787 rumah tangga petani miskin di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar Rp797,7 miliar.

"Sejak program itu digulirkan pada tahun 2013 lalu, hingga Juni 2018 sudah menyentuh 130.787 rumah tangga petani miskin di NTT dengan peningkatan pendapat sekitar Rp797 miliar melalui berbagai usaha ekonomi," kata Kepala Unit Komunikasi AIP-Rural, Muhammad Karim Wirasaputra kepada wartawan di Kupang, Minggu (19/8).

Dia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan perkembangan pelaksanaan program dan manfaat bagi peningkatan pendapatan masyarakat pedesaan, khsusunya para petani dari kalangan keluarga miskin di NTT.

Prisma merupakan program multi tahun di bawah Australia-Indonesia Parthnership for Rural Economic Development (AIP-Rural), yang mendukung strategi pembangunan Pemerintah Indonesia dalam mempercepat pengentasan kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

"Prisma tidak memberikan bantuan modal kepada petani, tetapi memberikan kemudahan akses untuk membangun kemitraan dengan sektor swasta," katanya menjelaskan.

Ia menambahkan rumah tangga petani miskin juga telah mengadopsi informasi mengenai praktek pertanian baru yang inovatif.

Dia menambahkan, Prisma fokus pada sektor pertanian yang memiliki potensi pertumbuhan yang kuat, dan menjadi sumber pemasukan yang besar bagi mayoritas petani kecil di Indonesia.
Kepala Komunikasi AIP-Rural M Karim Wirasaputra. (ANTARA Foto/Bernadus Tokan). 

Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Prisma fokus pada pengembangan ternak babi, dan hingga Juni 2018 telah menjangkau 74.154 rumah tangga petani miskin yang bergelut di bidang usaha ternak babi dengan peningkatan pendapatan sebesar Rp74,154 miliar.

Selain ternak babi, Prisma menyentuh pula 30.299 rumah tangga miskin petani kecil yang bergerak pada usaha pengembangan kopi 15.267, dengan peningkatan pendapatan Rp16 miliar.

Sementara 9.318 rumah tangga petani miskin yang bergulat pada usaha kacang mete telah berhasil meningkatkan pendapatan mereka sebesar Rp7,3 miliar

Prisma juga menyentuh 1.578 rumah tangga petani miskin dengan usaha rumput laut dan berhasil meningkatkan pendapatan sebesar Rp330 juta, serta 231 rumah tangga petani miskin yang membangun usaha pada usaha kacang hijau dengan peningkatan pendapatan sebesar Rp127 juta.

Dan 30.299 rumah tangga miskin yang bergerak dibidang usaha pengembangan jagung dengan peningkatan pendapatan sebesar Rp27 miliar.

Artinya, Prisma tidak hanya fokus pada usaha-usaha ternak babi tetapi juga usaha lain seperti petani kopi, kacang mete, jagung, rumput laut dan juga kacang hijau.

"Memang kami lebih fokus pada peternak babi karena memiliki potensi pertumbuhan yang kuat, dan menjadi sumber pemasukan yang besar bagi mayoritas petani kecil di NTT," katanya.

Di Sumba Barat Daya, katanya mencontohkan, saat ini ribuan peternak babi telah berhasil meningkatkan pendapatan rumah tangga mereka dari hasil penjualan babi. 
Usaha peternakan babi oleh keluarga miskin di Nusa Tenggara Timur

 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar