Kampung Adat perlu dilengkapi hidran

id Gurusina

Tiga orang wisatawan sedang menikmati Kampung Adat Gurusina di Kecamatan Jerebu'u. Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur sebelum terbakar pada Senin (13/8) sore. (ANTARA Foto/dok)

"Kampung-kampung adat kita di NTT yang jumlahnya mencapai ratusan ini perlu dilengkapi dengan hidran air sehingga ketika terjadi kebakaran bisa cepat diredam," kata Marius Ardu Jelamu.
Kupang (AntaraNews NTT) - Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Timur Marius Ardu Jelamu mengatakan kampung-kampung adat di wilayah provinsi kepulauan ini perlu dilengkapi dengan hidran guna mengantisipasi terjadinya kebakaran.

"Kampung-kampung adat kita di NTT yang jumlahnya mencapai ratusan ini perlu dilengkapi dengan hidran air sehingga ketika terjadi kebakaran bisa cepat diredam," katanya di Kupang, Rabu (12/9).

Menurutnya terkait peristiwa kebakaran yang sering kali melanda kampung-kampung adat yang merupakan bagian dari kekayaan wisata budaya di NTT.

Sejumlah peristiwa kebakaran sebelumnya telah melanda kampung-kampung adat di NTT seperti Kampung Adat Tarung di Kabupaten Sumba Barat, Pulau Sumba, Kampung Adat Gurusina di Kabupaten Ngada Pulau Flores, dan terkahir Kampung Adat Bondo Moroto di Kabupaten Sumba Barat yang terbakar pada Senin (11/9).

Marius mengakui kondisi kampung adat dengan rumah-rumah yang dibangun mengunakan bahan-bahan tradisional seperti kayu, alang-alang, dan bambu rawan terbakar ketika disambar api.

Untuk itu, lanjutnya dibutuhkan upaya antisipasi dini dengan pengadaan fasilitas pemadaman seperti hidran air untuk mencegah sambaran api di rumah-rumah yang pada umumnya saling berdekatan.

Baca juga: Kampung adat Bondo Maroto ludes terbakar
Baca juga: Kerugian akibat terbakarnya kampung adat Gurusina ditaksir Rp5,4 miliar
Kampung adat Gurusina di Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Senin (13/8) petang sekitar pukul 16.30 Wita terbakar. Sebab-sebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak kepolisian setempat. (ANTARA Foto/istimewa) 
Ia mencontohkan, salah satu kampung adat yang sudah dilengkapi fasilitas hidran yaitu Bena, di Kabupaten Ngada, Pulau Flores.

"Sementara ada ratusan kampung adat lainnya yang kita miliki di NTT pada umumnya belum ada fasilitas hidran ini," katanya.

Untuk itu, Marius meminta setiap pemerintah kabupaten di provinsi itu yang memiliki kampung-kampung adat, agar mengadakan fasilitas hidran untuk mengurangi resiko kebakaran kampung adat yang menjadi aset wisata budaya yang berharga.

"Saya kira pengadaan fasilitas hidran air seperti di Bena itu bisa menjadi contoh bagi kabupaten lainnya yang memiliki kampung adat," jelasnya.

Lebih lanjut, ia juga meminta para warga kampung adat untuk selalu memperhatikan kondisi tungku api di dapurnya masing-masing sebelum beraktivitas di luar rumah.

"Warga juga harus waspada, jangan sampai tungku api dibiarkan menyalah sementara dekat dengan langit-langit rumah dan dinding yang semuanya dari bahan mudah terbakar," tambahnya.
Sebuah perkampungan adat di Sumba Barat Daya, Pulau Sumba, NTT ludes dialalap si jago merah. (ANTARA Foto/istimewa)
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar