Budidaya kerapu di Mulut Seribu terkendala anggaran

id Kerapu

Dinas Kelautan dan Perikanan Nusa Tenggara Timur berencana membudidayakan ikan kerapu di wilayah perairan mulut seribu Pulau Rote, gerbang terselatan Indonesia, namun masih terkendala anggaran. (ANTARA Foto/dok)

"Rencana budidaya kerapu di perairan laut Mulut Seribu di Kabupaten Rote Ndao, gerbang terselatan Indonesia masih terkendala anggaran," kata Ganef Wurgiyanto.
Kupang (AntaraNews NTT) - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Nusa Tenggara Timur Ganef Wurgiyanto mengatakan rencana budidaya kerapu di perairan laut Mulut Seribu di Kabupaten Rote Ndao, gerbang terselatan Indonesia masih terkendala anggaran.

"Sementara ini kami sedang melakukan persiapan-persiapan seperti pembangunan keramba, dan rumah darurat untuk petugas jaga, tetapi anggaran untuk budidaya ini juga belum ada," kata Ganef Wurgiyanto kepada Antara di Kupang, Rabu (10/10).

Dia mengemukakan hal itu berkaitan dengan realisasi keinginan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat untuk menjadikan wilayah perairan Mulut Seribu, Kabupaten Rote Ndao, gerbang selatan Indonesia yang berbatasan dengan negeri Kanguru, Australia sebagai lokasi budidaya ikan kerapu.

Menurut Ganef, pihaknya sedang berkoodinasi dengan Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah, untuk melakukan pergeseran sebagian anggaran perubahan di Dinas Kelautan dan Perikanan untuk kegiatan budidaya kerapu.

"Kalau anggaran tidak bisa digeser maka kami akan melaporkan kepada pak gubernur untuk mencari jalan keluar, karena harus ada anggaran untuk pengadaan benih, pakan dan biaya operasional," katanya.

Baca juga: Budidaya kerapu di Perairan Mulut Seribu

Rencana budidaya tersebut, untuk memenuhi keinginan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat, yang menghendaki agar wilayah perairan Mulut Seribu di Pulau Rote dijadikan sebagai lokasi budidaya ikan kerapu.

Gubernur Laiskodat bahkan meminta Dinas Kelautan dan Perikanan NTT untuk segera melakukan budidaya agar paling lambat April 2019 sudah bisa dipanen, bersamaan dengan budidaya lobster dan ikan kakap.

"Prinsipnya kami siap. Saat ini sedang dilakukan persiapan, sambil menunggu pergeseran anggaran untuk pengadaan bibit dari Pulau Jawa," katanya menambahkan.

Pengadaan bibit, kata dia, tentunya akan disesuaikan dengan ukuran yang bisa dipanen paling lambat April 2019, seperti apa yang diharapkan Gubernur Laiskodat. 
Dinas Kelautan dan Perikanan Nusa Tenggara Timur berencana membudidayakan ikan kerapu di wilayah perairan mulut seribu Pulau Rote, gerbang terselatan Indonesia, namun masih terbentur dengan anggaran. (ANTARA Foto/dok) 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar