Pengamat: Demokrasi di Indonesia telah bergeser

id Ahmad

Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang Dr Ahmad Atang MSi.

"Fenomena dukung-mendukung pasangan calon presiden pada Pemilu 2019 membuktikan bahwa demokrasi Indonesia telah mengalami pergeseran," kata Ahmad Atang.
Kupang (AntaraNews NTT) - Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang Dr Ahmad Atang, MSi berpendapat fenomena dukung-mendukung pasangan calon presiden pada Pemilu 2019 membuktikan bahwa demokrasi Indonesia telah mengalami pergeseran.

"Fenomena dukung-mendukung merupakan hal yang wajar dalam politik, tetapi harus dipahami bahwa demokrasi kita hari ini telah bergeser dari demokrasi representatif ke demokrasi partisipatif, dan dari demokrasi institusi ke demokrasi individu," kata Ahmad Atang kepada Antara di Kupang, Kamis (11/10).

Mantan Ppembantu Rektor I Universitas Muhammadiyah Kupang itu menambahkan fenomena dukung mendukung pasangan calon pada pilpres mendatang merupakan hal yang wajar dalam politik.

Hal ini pula merujuk pada konsep politik yang terkait langsung dalam memahami politik adalah persepsi publik terhadap figur.

"Semakin tinggi ekspektasi publik terhadap figur itu positif, akan mendorong publik memberikan dukungan kepadanya, begitu juga sebaliknya," tuturnya.

Dengan demikian, dari dua figur yang akan bertarung pada pilpres mendatang, menampakan fenomena partisan politik lokal memberi dukungan yang berbeda dengan sikap koalisi partai di pusat.

Baca juga: Pilpres 2019 sudah menjurus ke politik harga diri

Walaupun demikian, kasus banyaknya kepala daerah yang mendukung Jokowi, misalnya, sementara partainya mendukung Prabowo menunjukan adanya pembangkangan politik yang dilakukan oleh kader partai.

"Di sini, kader daerah lebih melihat figur Jokowi bukan partai," katanya dan menambahkan jika dilihat dari aspek hirarkis organisasi politik, maka tindakan tersebut merupakan perlawanan internal.

Namun, harus juga dipahami bahwa demokrasi hari ini telah bergeser dari demokrasi representatif ke demokrasi partisipatif dan dari demokrasi institusi ke demokrasi individu maka kader daerah lebih melihat figur Jokowi, bukan partai.

"Figuritas memainkan peran sangat penting dalam membangun image politik untuk meraih dukungan, karena politik merupakan sesuatu yang sangat kontekstual," katanya.

"Ketika konteks lokal lebih menguntungkan Jokowi, maka tidak ada pilihan lain untuk melawan arus sehingga kepentingan lokallah menjadi alasan pembangkangan yang dilakukan oleh kader di daerah terhadap induk organisasinya," demikian Ahmad Atang.

Baca juga: Pilpres 2019 hanya mengulangi drama 2014
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar