Kementerian Desa kejar investasi di sektor konektivitas

id Kementerian Desa,Pembangunan Daerah Tertinggal,Transmigrasi,kejar investasi,konektivitas

Kementerian Desa kejar investasi di sektor konektivitas

Foto udara lokasi pemukiman dan lahan transmigrasi di Desa Puncak, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Selasa (5/3/2019). Setiap satu Kepala Keluarga (KK) transmigran di daerah itu mendapatkan satu unit rumah, pekarangan serta lahan. (ANTARA/ Adiwinata)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi akan mengejar investasi di sektor konektivitas yang dianggap penting jika ingin terjun ke industri 4.0.

"Investasi itu yang akan kita kejar, sehingga transmigrasi tidak hanya memindahkan kemiskinan tetapi merevitalisasi daerah-daerah transmigrasi yang miskin sehingga  ekonominya bisa berkembang," ujar Menteri Desa, Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo di Jakarta, Kamis.

Ia menilai investasi pada sektor konektivitas itu sebagai suatu kesempatan untuk masyarakat transmigran untuk menekan biaya produksi dan menekan biaya ekonomi tingginya sehingga diharapkan daerah-daerah transmigrasi juga bisa menyumbang pertumbuhan ekonomi di Indonesia secara keseluruhan.

Dalam empat tahun terakhir, Eko terus berupaya menghubungkan transmigran dengan para stakeholder seperti dunia usaha dan perbankan sehingga tahun lalu, ada investasi di daerah transmigrasi sebesar Rp17 triliun salah satunya dari Korea Electric Power Corporation (Kepco) di daerah Sumbawa Barat.

"Mereka investasi sebesar 200 juta dolar AS dalam bentuk pengolahan pascapanen di daerah-daerah transmigrasi," kata Eko.

Oleh karena itu, adanya konektivitas dengan daerah transmigrasi menjadi penting sebab selama ini hal itu yang menjadi kendala di dalam hubungan tersebut.

Selain itu, Eko juga mengapresiasi adanya transmigran yang pendapatannya lebih dari Rp600 juta per tahun. Eko mengatakan model transmigran masa kini sudah banyak mengalami peningkatan dibandingkan transmigran yang dulu.

Selama empat tahun lalu Eko mengatakan tidak memindahkan terlalu banyak orang.

Ia hanya memindahkan 12.000 orang Kepala Keluarga (KK) saja, namun upaya merevitalisasi keluarga transmigran yang masih dikategorikan miskin selama mereka ikut program transmigrasi menjadi prioritas.

Ia bersyukur tahun ini sudah banyak transmigran yang mengalami peningkatan pendapatan di daerah-daerah transmigrasi dan minat swasta untuk berinvestasi di daerah transmigrasi juga cukup besar sehingga mempercepat pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah transmigrasi.

Selain itu, melihat dulu masih banyak daerah-daerah yang belum layak dihuni sehingga penduduk miskin itu tidak bisa maju di daerah-daerah transmigrasi.

Eko beserta jajarannya dalam tiga tahun terakhir terus merevitalisasi daerah-daerah transmigrasi agar masyarakat mau mengambil kesempatan mengikuti transmigrasi lokal untuk mengurangi kesenjangan.

Sementara Direktur Pengembangan Sosial Budaya Transmigrasi, Dewi Yuliani mengatakan tahun ini sudah memindahkan 1.465 kepala keluarga (KK), tahun sebelumnya sekitar 2.685 KK, untuk tahun pertama itu mereka masih mendapatkan catu pangan. Namun selanjutnya para transmigran harus bisa berswadaya di daerah transmigrasinya masing-masing.

"Program transmigrasi itu dianggap penting untuk pemerataan kesejahteraan masyarakat. Sebab di Indonesia itu hampir rata-rata provinsinya berkembang karena adanya daerah transmigrasi," katanya.
 

Pewarta : Abdu Faisal
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar