DLH Sumbar matikan alat pengukur udara karena tidak akurat

id alat ispu,kebakaran hutan,kebakaran hutan dan lahan,asap karhutla,karhutla,Padang,sumbar

DLH Sumbar matikan alat pengukur udara karena tidak akurat

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumbar Siti Aisyah. (ANTARA SUMBAR/ Fandi Yogari)

Padang (ANTARA) - Monitor alat pengukur Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di halaman kantor Gubernur Sumatera Barat tidak berfungsi karena sengaja dimatikan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat sebab dinilai tidak akurat.

"Monitor alat pengukur ISPU itu ada di luar ruangan (out door) dan di dalam ruangan (indoor). Pengukur di luar ruangan di Kantor Gubernur dan Kantor Wali Kota. Itu sengaja dimatikan karena sangat sensitif hingga sering tidak akurat," kata Kepala DLH Sumbar, Siti Aisyah di Padang, Jumat.

Menurutnya, alat itu dimatikan bukan karena rusak, tetapi semata karena tidak akurat. Dikhawatirkan masyarakat salah membaca indikator dari monitor tersebut.

Ia mengatakan akan memperbaiki akurasi dan melakukan perawatan. Dalam satu atau dua hari teknisi akan bekerja untuk memastikan akurasinya.

Sementara ini, monitor alat pengukur ISPU yang bisa dimanfaatkan adalah yang berada di dalam ruangan di Kantor DLH setempat. Karena berada di dalam ruangan, alat itu menurut Siti Aisyah lebih akurat.

Baca juga: Peluang hujan kecil, Sumbar masih diselimuti kabut asap

Baca juga: Pemprov Sumbar bagikan 12 ribu masker antisipasi kabut asap

 
Sumbar Berlakukan Darurat Kabut Asap 2014


Meski tidak bisa melihat secara langsung melalui monitor alat pengukur ISPU tersebut, tetapi masyarakat masih bisa memantau kualitas udara melalui website.

Sebagian masyarakat menyayangkan keputusan DLH untuk mematikan alat itu karena mereka membutuhkan informasi segera untuk kualitas udara sehingga bisa secepatnya melakukan antisipasi.

Salah seorang warga Pauh, Padang, Robert menyebut setiap kali melewati jalan di depan Kantor Gubernur, dia berharap bisa mendapatkan informasi langsung kondisi kualitas udara terkini melalui alat pengukur ISPU.

Namun, dalam beberapa waktu belakangan, alat itu terlihat tidak berfungsi sehingga ia merasa tidak mendapatkan informasi tentang kualitas udara itu.

"Kalau memang sudah ada alatnya kenapa dimatikan?" katanya.

Ia berharap Pemprov Sumbar bisa memberikan layanan informasi terkini soal kualitas udara melalui alat itu seperti saat awal dipasang karena sangat membantu bagi masyarakat.*

Baca juga: BMKG: Kabut asap, jarak pandang di Sumbar hanya 7 sampai 8 kilometer

Baca juga: BMKG : Jarak pandang di Sumbar hanya tujuh kilometer akibat kabut asap

Pewarta : Miko Elfisha
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar