Kadis PPPA Bali Setujui teguran KPI Pusat soal kartun berisi kekerasan

id logo kpi,kpi pusat

Kadis PPPA Bali Setujui teguran KPI Pusat soal kartun berisi kekerasan

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Denpasar (ANTARA) - Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Bali, Luh Ayu Aryani menuturkan bahwa Ia setuju terkait dengan dikeluarkannya teguran dari KPI Pusat beberapa waktu lalu, terhadap penayangan salah satu kartun dengan konten bernada kekerasan atau tidak layak ditayangkan bagi anak.

"Kalau saya setuju, diberi teguran bagi televisi yang menayangkan sisi yang tidak layak bagi anak. Namun, penayangan kartun seperti Krishna, Hanuman, Bima, Gatotkaca dan seri Mahabharata lainnya, termasuk Sun Go Kong itu tetap perlu karena di sana ada penyampaian nilai jiwa ksatrya. Bukan dengan menghapuskan," kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Bali, Luh Ayu Aryani, di Denpasar, Kamis.

Ia menjelaskan bagi anak sejak dini perlu dibangun sebuah karakter untuk mengenali diri dan mampu mengontrol diri. Selain itu juga, mampu dalam mengubah pandangan dan sikap anak yang keliru.

Menurut dia, jumlah anak kita mencapai 34 persen dari keseluruhan populasi Indonesia. Dilihat dari jenis film yang disukai kalangan anak - anak, terbagi atas film tentang pengetahuan, olahraga, sinetron, budaya dan sebagainya. Tidak semua anak - anak menyukai satu jenis film melainkan menyesuaikan dengan usia dan fase tumbuh kembang masing - masing anak.

"Menurut saya, tidak masalah anak-anak lebih suka nonton film sinetron dibanding film kartun, asal jangan kelewatan. Bukankah sinetron satu keniscayaan di lingkungan anak yang disuguhkan oleh semua saluran televisi. Jadi itu jangan terlalu dimasalahkan," jelas Aryani.

Ia menambahkan justru dibutuhkan peran dari orang tua, untuk mampu melihat potensi dan bakat yang berkembang pada anak untuk melakukan dimensi pengasuhan dengan baik dan tepat. Menurutnya, memasuki usia tertentu, beberapa anak lebih menyukai sinetron, dan sebagian lagi lebih menyukai kartun, dan begitu sebaliknya.

"Kondisi anak dengan mudah dan cepat meniru sisi berisiko dari sinetron, saya yakin itu karena kurangnya fungsi dan peran orangtua dalam pengasuhan terhadap anak dalam fase tumbuh kembangnya. Karena itu, mari kita sebagai orang dewasa introspeksi diri, tentang melakukan fungsi pengasuhan dengan baik, membekali diri dengan pengetahuan, wawasan dan keterampilan pengasuhan yang memadai dalam menghadapi era milenial ini," katanya.

Untuk itu, dengan dikeluarkannya teguran tayangan kartun yang berisi adegan kekerasan juga dibarengi dengan pola asuh dari orang tua yang baik. Dengan begitu, anak dapat menjadi terbekali pengetahuan kognitif, dan sikap (afektif) dan termasuk nantinya tindakan (psikomotorik) dalam merespon sekitarnya.

Pewarta : Ayu Khania Pranishita
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar