Fenomena baru wisman datang bawa makanan sendiri, ini penyebabnya

id wisatawan mancanegara,wisman,usaha kuliner,bps ntt

Fenomena baru wisman datang bawa makanan sendiri, ini penyebabnya

Ilustrasi: Wisatawan mancanegara (wisman) membawa barang bawaan di Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali (ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)

Kupang (ANTARA) - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)  Maritje Pattiwaellapea mengemukakan adanya fenomena baru pola belanja wisatawan mancanenegara (wisman) yang menjadi tantangan bagi usaha-usaha pariwisata.

"Ada fenomena baru belanja wisman yang menarik sekaligus menjadi tantangan usaha kuliner kita, sekarang banyak wisman datang membawa makanan sendiri dan tidak belanja di lokasi wisata," katanya di Kupang, NTT, Senin.

Dia mengatakan pihaknya telah melakukan survei terkait struktur pengeluaran atau belanja wisatawan asing ketika berwisata ke provinsi setempat.

Maritje menjelaskan pengeluaran yang paling besar yaitu untuk belanja makanan dibandingkan jenis lainnya seperti transportasi, akomodasi, dan lainnya.

"Namun ada fenomena baru banyak wisatawan dari beberapa negara yang membawa makanan dari tempat asalnya," katanya.

"Saya tidak tahu apakah makanan lokal kita tidak cocok dengan mereka (wisman), tetapi ada fenomena seperti ini, mereka datang membawa koper yang besar berisi makanan," katanya lagi.

Menurut Maritje, kondisi ini perlu disiasati pemerintah di berbagai daerah wisata agar tidak membuat usaha kuliner lokal menjadi lesuh.

Jika semakin banyak wisman yang membawa makanan sendiri, lanjutnya, maka belanja mereka akan berkurang sehingga tidak berdampak besar untuk pertumbuhan devisa.

Maritje juga berharap agar berbagai usaha kuliner lokal dengan ciri khas produk tertentu agar terus diperkuat pemerintah daerah setempat.

"Kita di NTT ada produk khas seperti gula air, madu, jagung, daging sei, yang perlu ditingkatkan lagi, terutama kemasan dan lainnya, agar bisa menarik minat wisatawan," katanya.
 

Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar