Tenda Ramah Perempuan tangani 246 kasus kekerasan setahun pascabencana

id KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN,PEMPROV SULTENG,KEKERASAM BERBASIS GENDER,DP3A SULTENG,DP3A

Tenda Ramah Perempuan tangani 246 kasus kekerasan setahun pascabencana

Wagub Rusli Palabi menyampaikan sambutan pada kegiatan  fun  run  dan  fun walk dalam   rangka  memperingati  hari  anti    kekerasan terhadap  perempuan, hut ke-20 Dharma Wanita Persatuan dan  hari ibu ke – 91  tingkat  Provinsi Sulawesi Tengah di Palu. (ANTARA/Muhammad Hajiji)

Palu (ANTARA) - Tenda Ramah Perempuan (TRP) mencatat telah menangani 246 kasus kekerasan di lokasi pengungsian yang ada di Palu, Donggala dan Sigi sepanjang setahun pascabencana gempa, tsunami dan likuefaksi.

"Pengaduan terjadinya kasus-kasus kekerasan tersebut disampaikan di tenda/pos ramah perempuan yang saat ini telah didirikan oleh UNFPA di 12 (dua belas) titik di Pasigala," ucap Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Rusli Palabi, di Palu, Minggu.

Wagub Rusli Palabi memaparkan hal itu saat menyampaikan sambutan pada kegiatan fun run dan fun walk dalam rangka memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan, hut ke-20 Dharma Wanita Persatuan dan hari ibu ke – 91 tingkat Provinsi Sulawesi Tengah di Palu.

Dalam catatan TRP, 246 kasus yang dialami perempuan dan anak di Pasigala, berupa kekerasan seksual, kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan kekerasan dalam rumah tangga, termasuk pula kasus pernikahan usia anak dan permasalahan sosial lainnya yang terjadi pada perempuan dan anak.

Kasus-kasus terjadi dan ditangani oleh TRP di wilayah Kota Palu ada empat titik, yaitu di Kelurahan Duyu, Balaroa, Petobo, Dan Pantoloan Ova. di Wilayah Sigi empat titik, yaitu di Sibalaya Selatan, Pombewe, Lolu dan Bulubete. Kemudian, di wilayah Donggala juga empat titik, yaitu di Loli Pesua, Gunung Bale, Sipi, dan Wombo Kalonggo.

Atas kondisi tersebut, Rusli Palabi mengatakan upaya penghapusan segala bentuk kekerasan berbasis gender tidak hanya melibatkan kaum perempuan, akan tetapi lebih efektif bila melibatkan kaum laki-laki.

"Kehadiran laki-laki sebagai pelindung bagi perempuan sangatlah penting, walau ada pula di antara kasus-kasus kekerasan tersebut korbannya laki-laki dan pelakunya adalah perempuan, misalnya pada kasus KDRT," katanya.

Ia menyebut, menggiatkan upaya pencegahan berupa advokasi kebijakan, edukasi melalui kegiatan sosialisasi, workshop, dialog, kampanye dan lainnya penting dilakukan secara terintegrasi dan komprehensif karena pada hakekatnya, mencegah lebih baik daripada mengobati.

"Melalui kegiatan kampanye three ends ini, saya mengajak kita semua, untuk sama-sama mengakhiri tiga hal yaitu : akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, akhiri perdagangan orang, dan akhiri kesenjangan ekonomi bagi perempuan," imbuhnya.

Ia menambahkan, semua pihak harus terlibat untuk bangun pemahaman dan kepedulian terhadap permasalahan - permasalahan perempuan dan kelompok rentan (lansia, remaja, disabilitas dan anak-anak ), diawali dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan masyarakat.
Peserta kegiatan fun run dan fun walk dalam rangka memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan, hut ke-20 Dharma Wanita Persatuan dan hari ibu ke – 91 tingkat Provinsi Sulawesi Tengah di Palu. (ANTARA/Muhammad Hajiji)
Wagub Rusli Palabi mengambil undian lomba di dampingi Kepala DP3A Sulteng, Ihsan Basir pada kegiatan fun run dan fun walk dalam rangka memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan, hut ke-20 Dharma Wanita Persatuan dan hari ibu ke – 91 tingkat Provinsi Sulawesi Tengah di Palu. (ANTARA/Muhammad Hajiji)

Pewarta : Muhammad Hajiji
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar