4 remaja korban perdagangan manusia ditemukan Polrestabes Medan

id Perdagangan manusia,Perdagangan manusia di medan,Polrestabes Medan,PPA Polrestabes Medan

4 remaja korban perdagangan manusia ditemukan Polrestabes Medan

Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dadang Hartanto saat menginterogasi ketiga tersangka perdagangan manusia, di Mako Polrestabes Medan, Senin. (ANTARA/Nur Aprilliana Br Sitorus)

Medan (ANTARA) - Polrestabes Medan berhasil menemukan empat remaja yang menjadi korban perdagangan manusia atau human trafficking.
 
Informasi dihimpun, keempat korban berinisial EM, FS, FF dan RF. Keempatnya berhasil ditemukan unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Medan.

Baca juga: Polisi bongkar sindikat perdagangan orang di Medan
 
Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dadang Hartanto, Senin mengatakan penangkapan berawal dari informasi orang tua dari koban EM.
 
"Dari laporan orang tua korban, diketahui bahwa anaknya sudah sebulan tidak berada di rumah," katanya di Mako Polrestabes Medan.
 
Dari hasil laporan tersebut kata Dadang, tim langsung melakukan penyelidikan dan mendapat informasi bahwa korban berada di Kota Dumai.

Baca juga: Jelang Natal, TNI dan Polri di Medan tinjau gereja
 
"Kita kejar ke Dumai, ternyata mereka sudah kembali ke Medan," ujarnya.
 
Kemudian pada Sabtu, tim mendapat informasi bahwa korban berada di stasiun bus Bintang Utara Jalan Sisingamangaraja Medan.
 
"Akhirnya tim berhasil menemukan keempat korban bersama dengan seorang wanita berinisial N. Di mana N ini yang akan membawa para korban ke Malaysia," ujarnya.
 
Dari hasil penyelidikan kata Dadang, para korban akan diberangkatkan ke Malaysia dengan tawaran akan diberikan pekerjaan dengan gaji yang tinggi.
 
"Mereka dijanjikan pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Ternyata dalam pelaksanaannya mereka akan dipekerjakan di Spa plus-plus. Dalam sepuluh hari mereka akan mendapatkan Rp21 juta, sedangkan jika bersedia kawin kontrak per 3 bulan mereka dapat Rp80 juta," jelasnya.
 
 

Pewarta : Nur Aprilliana Br. Sitorus
Editor: Nurul Hayat
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar