KPAI: Orang tua cenderung tidak dampingi anak bermain gawai

id Penggunaan Gawai Anak,Pelindungan Anak,Ai Maryati Solihah,KPAI,Internet

KPAI: Orang tua cenderung tidak dampingi anak bermain gawai

Anak-anak Suku Bajo, di Desa Mola Selatan, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, bermain gawai, Senin (7/11/2016). Masih kurangnya kesadaran orang tua untuk berperan aktif menyekolahkan anak mereka membuat sekitar 80 persen anak-anak Suku Bajo di Desa Mola saat ini tidak mengenyam pendidikan meski fasilitas dan sarana sekolah mulai TK hingga SMA/SMK di wilayah tersebut telah tersedia. (ANTARA FOTO/ Dewi Fajriani)

Jakarta (ANTARA) - Komisioner Bidang Traficking dan Eksploitasi Anak Komisi Perlindungan Anak Indonesia Ai Maryati Solihah menyatakan  orang tua cenderung tidak melakukan pendampingan saat anak bermain menggunakan gawai selama pandemi COVID-19.

"Perlu ada edukasi penggunaan gawai bagi anak. Dari hasil survei, terlihat ibu lebih sering mendampingi anak saat bermain gawai dibandingkan ayah," kata Ai dalam diskusi daring menyambut Peringatan Hari Dunia Antiperdagangan Orang yang diikuti di Jakarta, Rabu.

Menurut survei yang dilakukan KPAI dengan responden 25.164 anak dan 14.169 orang tua di 34 provinsi, anak diizinkan menggunakan gawai selama pandemi COVID-19.

Sebanyak 79 persen anak diperbolehkan menggunakan gawai selain untuk belajar, 71,3 persen anak memiliki gawai sendiri, dan 79 persen menggunakan gawai dengan orang tua tanpa ada aturan.

Dari sisi orang tua, sebanyak 76,8 persen mengizinkan anak menggunakan gawai selain untuk belajar dengan alasan sarana mencari pengetahuan (74,1 persen), sarana informasi (70,4 persen), dan membuat video, tulisan dan aktivitas produktif lainnya (44,9 persen).

"Namun, anak paling sering menggunakan gawai untuk chatting dengan teman, yaitu 52 persen; menonton Youtube 52 persen, mencari informasi 50 persen, menggunakan media sosial 42 persen, dan lain-lain," tuturnya.

Baca juga: Yayasan Sejiwa: Orang tua harus tahu penggunaan gawai oleh anak

Baca juga: Orang tua harus kendalikan penggunaan gawai pada anak, sebut KPPPA


Sementara itu, dari sisi orang tua, sebanyak 71,6 persen orang tua tahu anaknya menggunakan gawai untuk mencari informasi, 60,4 persen menonton Youtube, 59 persen bermain game, dan 45,8 persen chatting dengan teman.

"Orang tua yang sering menjelaskan manfaat dan dampak buruk penggunaan gawai adalah ibu sebanyak 43,3 persen, sementara ayah hanya 38,6 persen. Bahkan ada 10 persen ayah yang tidak pernah menjelaskan manfaat dan dampak buruk penggunaan gawai," jelasnya.

Sebanyak 90,3 persen orang tua menjelaskan bahwa gawai dapat menyebabkan kecanduan, melihat tayangan atau iklan tidak 55,7 persen, diperlihatkan atau dikirimi gambar tidak sopan 34,6 persen, dikirimi foto tidak sopan dan ditipu 25 persen, dan dikirimi video tidak sopan 23,1 persen.

Lama anak mengakses internet yaitu 1 jam hingga dua jam per hari 35,5 persen, dua jam hingga lima jam per hari 34,8 persen, dan lebih dari lima jam per hari 25,4 persen.

"Ada potensi celah antara pengasuhan yang dilakukan orang tua dengan yang diterima anak. Kualitas komunikasi dalam pengasuhan perlu dikuatkan," katanya. 

Baca juga: Penggunaan gawai selama belajar dari rumah harus sesuai kebutuhan

Baca juga: Sekolah diminta susun tata tertib penggunaan gawai

Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar