Rasio uji swab Sumsel penuhi anjuran WHO

id COVID-19 sumsel, Uji swab sumsel, tes pcr sumsel,Rasio uji swab, who, corona sumsel, kasus positif sumsel, reagen

Rasio uji swab Sumsel penuhi anjuran WHO

Ilustrasi - Petugas laboratorium di BBLK Palembang sedang memeriksa sampel pada Rabu (15-2-2020). (ANTARA/Aziz Munajar/20)

Palembang (ANTARA) - Uji usap (swab) di Sumatera Selatan telah memenuhi rasio pemeriksaan polymerase Chain Reaction perseribu penduduk sesuai anjuran dari World Health Organization (WHO) dalam mendeteksi penyebaran COVID-19.

Berdasarkan data harian Satgas Penanganan COVID-19 Sumsel, Senin, tes PCR di Sumsel berada di angka 3,72 yang berarti 3-4 orang dari 1.000 penduduk Sumsel sudah diuji usap sejak Maret hingga 11 Oktober 2020, lebih tinggi dari anjuran WHO di angka 3,5.

"Tes PCR di Sumsel ada yang dari hasil penelusuran kontak, ada juga tes mandiri, namun lebih banyak yang hasil penelusuran kontak kasus," kata Kasi Surveilans dan Imunisasi Dinkes Sumsel, Yusri di Palembang.

Total sampel yang diperiksa sejumlah laboratorium di Sumsel per 11 Oktober berjumlah 31.900 orang, sebanyak 6.776 atau 24 persen positif COVID-19, sedangkan 21.301 orang dinyatakan negatif.

Baca juga: 14.000 warga Palembang sudah ikuti uji swab

Baca juga: Positif COVID-19 dekati 700 kasus, Palembang perlu swab masif


Meski rasio skala provinsi sudah terpenuhi, namun baru empat dari 17 wilayah yang melampaui anjuran 3,5 perseribu penduduk, yakni Kota Lubuklinggau, Palembang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir dan Muara Enim.

Sementara 13 kabupaten/kota lainnya masih di bawah angka 3,5, bahkan lima wilayah belum mencapai angka 1, yaitu Kabupaten OKI, OKU Selatan, Empat Lawang dan Musi Rawas.

"Jika memang kasus positif di suatu wilayah rendah maka rendah juga yang diuji usap, karena tes PCR baru menyasar kontak kasus bergejala saja," tambahnya.

Tes PCR di kabupaten/kota dapat ditingkatkan jika ketersediaan reagen juga cukup untuk pemeriksaan, kata dia, namun dibutuhkan kebijakan dari kepala daerah masing-masing agar mau membantu alokasi reagen yang masih disuplai dari pemerintah pusat.

"Kalau reagen disediakan lebih banyak maka kami bisa mendorong supaya yang batuk dan pilek juga ikut di tes PCR, tapi kondisi sekarang memang masih terbatas," kata Yusri.

Sementara penetapan satu tarif bagi PCR mandiri oleh pemerintah pusat belum dirasa mendorong peningkatan tes PCR, karena tidak semua kontak kasus sanggup membayarnya dan laboratorium yang menyediakan layanan tes PCR mandiri juga terbatas hanya wilayah tertentu.*

Baca juga: 3.225 orang di Sumsel masih menunggu hasil uji swab

Baca juga: Gubernur: Sumsel tertinggi di Sumatera karena banyak uji "swab"

Pewarta : Aziz Munajar
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar