Meski tengah loyo, harga emas akan kembali naik

id Antam,Emas

Meski tengah loyo, harga emas akan kembali naik

Karyawan menunjukkan kepingan emas di Toko Mas International, Pasar Mayestik, Jakarta, Selasa (3/11/2020). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/hp. (ANTARAFOTO/PUSPA PERWITASARI)

Jakarta (ANTARA) -- Harga emas Antam tengah mengalami tren negatif beberapa waktu terakhir ini. Harga emas Antam erada di level Rp961.000/gram per Selasa (24/11), lebih rendah dibandingkan tujuh hari sebelumnya, yakni di angka Rp980.000/gram.

Melemahnya harga emas tak terlepas dari harga emas dunia yang masih di bawah 1.900 dolar AS/troy ons.

Meskipun demikian, melesunya harga emas Antam dinilai tak akan berlangsung lama, dan akan kembali mencatatkan tren positif, khususnya di tengah terbangunnya optimisme pasar terkait pesatnya pengembangan vaksin Covid-19.

Direktur eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menjelaskan, harga emas saat ini sedang menurun karena memang ada potensi pertumbuhan ekonomi yang positif sehingga akan bermunculan opsi investasi yang lain.
"Namun emas tetap menjadi pilihan investasi yang menjanjikan karena diberbagai kondisi emas biasanya relatif stabil malahan naik ketika terjadi resesi akibat pandemi", ujar Komaidi.

Proyeksi ini tak terlepas dari moncernya penjualan emas Antam selama kuartal III-2020 yakni sebesar 6.976 kg atau melesat 147 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 2.818 kg.

Lebih lanjut, Komaidi menambahkan bahwa naik turunya harga emas merupakan hal yang wajar karena hukum ekonomi ketika permintaan banyak pasti naik harganya. "Dan saat ini permintaan sedang banyak dikarenakan kondisi tidak menentu akibat pandemi karena biasanya orang disaat krisis mereka akan memilih mana yang paling aman yakni investasi emas," tuturnya.

Senada dengan Komaidi, pengamat pasar modal Hans Kwee mengatakan, kemenangan Joe Biden dalam pemilu AS menjadi salah satu penting yang mempengaruhi harga emas dunia ke depannya. Pasalnya, kemenangan Biden membawa sentimen positif pada pasar saham.
"Pemilu AS dan pandemi mendorong nilai logam mulia terus terakumulasi sehingga nilainya terus naik", tutup Hans.

Meskipun demikian, Hans menekankan bahwa pertumbuhan emas diperkirakan akan melandai seiring dengan semakin surutnya pandemi dan semakin terkoreksinya kondisi ekonomi global.
"Ketika ekonomi global sedang tidak jelas, orang cenderung rame-rame beli emas, tapi begitu kondisi sudah membaik, mungkin banyak orang yang mulai mengalihkan pandangannya ke instrumen investasi lain," tukasnya.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Antam Kunto Hendrapawoko menyebut Antam juga memiliki berbagai alternatif investasi emas.
Melihat tingginya masyarakat dalam investasi emas, Antam juga memiliki beberapa alternatif investasi seperti emas gift series dan depositori emas Logam Mulia atau yang dikenal dengan nama BRANKAS, papar Kunto.

Menurut Kunto, BRANKAS memberikan kemudahan akses bagi pelanggan dalam menginvestasikan dana yang dimiliki dalm bentuk emas fisik secara mudah dan aman. Karena emas yang dibeli melalui BRANKAS itu disimpan di Antam, maka keamanannya juga terjaga. Jika sewaktu-waktu pelanggan ingin mengambil emasnya dapat dilakukan dalam bentuk fisik atau uang tunai, tambahnya.

Kunto juga menjelaskan, saat ini Antam telah mengembangkan layanan BRANKAS Corporate ditujukan bagi korporasi yang ingin berinvestasi pada instrumen yang likuid yaitu emas, BRANKAS Berzakat ditujukan bagi pelanggan umat Muslim yang ingin berinvestasi sekaligus menunaikan zakat melalui simpanan emasnya, serta BRANKAS Individu.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai investasi emas Antam dan BRANKAS dapat dilihat di www.logammulia.com, www.brankaslm.com atau dapat menghubungi call center 0804-1-888-888, tutup Kunto.

Pewarta : Primasatya
Editor: PR Wire
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar