Guru Besar FKUI tekankan perlunya kesinambungan dalam upaya 3M dan 3T

id Guru Besar FKUI, 3M, 3T, COVID-19

Guru Besar FKUI tekankan perlunya kesinambungan dalam upaya 3M dan 3T

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Akmal Taher berbicara dalam Diskusi Kolaborasi Lintas Sektor dan Tata Kelola Publik dalam Penanganan Pandemi secara virtual, Jakarta, Kamis (4/2/2021). (ANTARA/Katriana)

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Akmal Taher menekankan perlunya kesinambungan dalam upaya pencegahan melalui edukasi protokol kesehatan 3M dan upaya penanganan COVID-19 dengan 3T.

"Jadi 3M dan 3T ini benar-benar satu kontinutas," kata Akmal dalam Diskusi Kolaborasi Lintas Sektor dan Tata Kelola Publik dalam Penanganan Pandemi secara virtual, Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan bahwa upaya melawan pandemi COVID-19 membutuhkan peran serta dari lintas sektor agar penanganan dapat dilakukan bersama-sama tidak hanya dalam upaya pencegahan tetapi juga pengobatan dan penyelesaian masalah-masalah lain yang muncul, misalnya terkait dengan upaya isolasi bagi penderita COVID-19 yang tidak bergejala.

Upaya untuk mengedukasi masyarakat tentang perlunya mencegah penularan dengan penerapan protokol kesehatan 3M, yaitu dengan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, hal itu menurutnya penting dilakukan. Karena dengan upaya tersebut, maka angka kasus diharapkan bisa ditekan semaksimal mungkin.

Baca juga: Wapres: 3M dan vaksinasi COVID-19 hukumnya wajib dipatuhi

Baca juga: Polsek Tanah Abang sebar 1000 masker dukung warga terapkan 3M


Tetapi bilamana dari upaya tersebut masih ada peningkatan kasus, maka persoalan lain yang perlu diatasi adalah bagaimana secepat mungkin melakukan pemeriksaan, penelusuran kontak erat dan penanganan kasus COVID-19 terhadap orang-orang yang diduga terinfeksi dan kerabatnya yang mungkin memiliki kontak erat agar dapat memutus mata rantai penyebarannya di tengah masyarakat.

Selain perlu memperhatikan upaya pencegahan dan penanganan, petugas kesehatan dan pemangku kepentingan terkait juga perlu melihat kemungkinan masalah lain yang mungkin muncul di tengah masyarakat dalam pengentasan kasus COVID-19.

Misalnya, kata dia mencontohkan, bila seseorang yang terindikasi COVID-19 tanpa gejala harus diisolasi untuk mencegah penyebaran, maka petugas kesehatan terkait perlu juga melihat kondisi rumah orang tersebut. Bilamana kondisinya tidak memungkinkan untuk diisolasi di rumahnya, maka petugas perlu memikirkan perlunya menyediakan tempat isolasi yang memadai.

Oleh karena itu, semua upaya tersebut tidak bisa dilakukan secara terpisah-pisah tanpa adanya kolaborasi dan koordinasi.

Butuh kerja sama lintas sektor untuk dapat melawan pandemi COVID-19 bersama-sama, tidak hanya oleh masyarakat dan tenaga kesehatan di Puskesmas, tetapi juga Dinas Kesehatan setempat dan pemerintah daerah bahkan organisasi masyarakat yang mungkin bisa memberikan kontribusinya dalam penanganan COVID-19.

Kolaborasi lintas sektor itu perlu dilakukan secara terpadu sehingga upaya pencegahan dan penanganan bisa dilakukan secara berkesinambungan sehingga upaya untuk memutus mata rantai penularan COVID-19 sekaligus penanganannya bisa diupayakan secara terpadu.

"Jadi kolaborasinya bukan hanya dengan laboratoriumnya saja, tapi benar-benar dengan lintas sektor yang semuanya menjadi satu menangani setiap permasalahan. Jadi pentaheliks itu akan sangat penting karena kalau enggak sepertinya kita akan susah membayangkan ini akan selesai," demikian katanya.*

Baca juga: "Mempersenjatai" warga dengan vaksin dan 3M melawan COVID-19

Baca juga: IDI paparkan tiga aspek cegah penularan penyakit saat pandemi

Pewarta : Katriana
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar